Santri tidak hanya melihat bagaimana seorang kiai berbicara. Santri melihat bagaimana ia hidup.
Luthfi: meneruskan dari jalur ilmu
Anak kedua adalah KH Luthfi Muh Amin, bersama istrinya, Ustazah Dede Nina.
Nama Luthfi juga tidak asing dalam perjalanan Sulalatul Huda. Sebab pesantren bukan hanya bangunan yang harus dijaga. Ada tradisi ilmu yang harus terus bergerak.
Baca Juga:Tim Smart Posyandu UPI Dampingi Warga Cigedug Cegah Stunting dan Tingkatkan Literasi AnakTim Dosen Unsil Dorong UMKM Singaparna Melek Keuangan Digital Syariah
Kitab harus tetap dibaca. Pengajian harus tetap berlangsung. Santri harus tetap mendapatkan guru. Dan yang paling penting: adab tidak boleh kalah oleh zaman. Itulah pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Hana, Silmi, Syifa, Dhiya…
Kemudian ada Hana Naafisya, bersama suaminya Taufik Parastiyo. Ada Silmi Abdussalam, bersama istrinya Nadya Putty Budiman. Ada Ustazah Syifa Fuadzah, bersama Ustaz Irfan Hilmi.
Ada Ustazah Dhiya Nur Afiyah, bersama Ustaz Syarif. Masing-masing mempunyai jalan hidup.
Tidak semuanya harus berdiri di tempat yang sama. Justru di situlah sebuah keluarga besar pesantren bekerja. Ada yang mengajar. Ada yang mengurus keluarga. Ada yang mendampingi santri. Ada yang mengurus kegiatan. Ada yang menjaga hubungan alumni. Ada yang menjadi penghubung masyarakat.
Karena pesantren tidak hidup hanya ketika kitab dibuka. Pesantren juga hidup ketika silaturahmi dijaga.
Muh Sohibil Wafa dan empat saudara perempuannya.
Anak berikutnya adalah Muh Sohibil Wafa, bersama istrinya, Eva.
Kemudian ada Suni Nur Kamilah. Sufi Nur Fadilah. Zahra. Dan Azwa. Empat nama terakhir mungkin tidak selalu muncul di depan mikrofon.
Tetapi keluarga besar bukan panggung.Ada yang berdiri di depan. Ada yang bekerja di belakang. Dan keduanya sama-sama penting.
Baca Juga:Prabowo, KDM (part 7): Penerjemah Program Presiden!Tim Pengabdian Dosen Unsil Tasikmalaya Digitalisasi Pelaporan Kesehatan di Puskesmas Kahuripan
Sebuah pesantren bisa punya kiai yang hebat. Tetapi kalau keluarganya tidak mampu menjaga keseharian pesantren, ia akan kesulitan berjalan.
Sebelas anak, tetapi bukan sebelas pewaris takhta. Di sinilah cerita KH Didi Abdul Majid menjadi menarik. Kalau orang membaca kata “warisan”, biasanya yang terpikir adalah tanah. Rumah. Uang. Perusahaan.Atau jabatan.
Tetapi warisan seorang kiai sering kali justru tidak terlihat. Sanad. Doa. Nama baik. Akhlak. Dan pesantren.
