Itu sebabnya sebelas anak KH Didi Abdul Majid tidak sedang berebut sesuatu yang bernama takhta. Mereka sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih berat: amanah.
Ayah meninggalkan pesantren. Anak-anak menjaga ruhnya. Sulalatul Huda hari ini masih berjalan.
Bahkan jejak kehidupan pesantren itu terus terlihat dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Pada 2025, misalnya, Haul ke-19 KH Didi Abdul Majid dirangkai dengan Reuni Himasuda ke-35, tabligh akbar dan peringatan Isra Mi’raj.
Baca Juga:Tim Smart Posyandu UPI Dampingi Warga Cigedug Cegah Stunting dan Tingkatkan Literasi AnakTim Dosen Unsil Dorong UMKM Singaparna Melek Keuangan Digital Syariah
Pada 2026 pun kehidupan pesantren terus bergerak. Salah satu kegiatan yang diberitakan adalah kerja bakti dan perbaikan fasilitas masjid serta pesantren bersama Yonif TP 939/Macan Putih.
Pesantren ternyata seperti manusia. Kalau tidak bergerak, ia akan tua. Kalau tidak beradaptasi, ia akan ditinggalkan.
Tetapi kalau kehilangan ruh, ia hanya menjadi bangunan. Karena itu pekerjaan anak-anak KH Didi bukan sekadar menjaga bangunan Sulalatul Huda. Mereka harus menjaga ruh Sulalatul Huda.
Doa seorang ayah ternyata panjang sekaliAda hal yang sering dilupakan dalam cerita tentang ulama. Kita sering membicarakan muridnya. Kitabnya. Pesantrennya. Pengajiannya.
Tetapi jarang membicarakan anak-anaknya. Padahal dari anak-anak itulah kita bisa melihat apakah nilai yang diajarkan seorang ayah benar-benar hidup.
KH Didi mungkin sudah tidak bisa memberi nasihat langsung. Tidak bisa lagi duduk bersama anak-anaknya. Tidak bisa lagi menegur. Tidak bisa lagi tersenyum ketika melihat pesantren ramai.
Tetapi anak-anaknya masih bisa melakukan satu hal. Melanjutkan apa yang baik. Dan setiap kali mereka melakukan itu, seolah-olah doa sang ayah mendapatkan tempat baru untuk berlabuh.
Baca Juga:Prabowo, KDM (part 7): Penerjemah Program Presiden!Tim Pengabdian Dosen Unsil Tasikmalaya Digitalisasi Pelaporan Kesehatan di Puskesmas Kahuripan
Ada warisan yang habis dibagi. Ada warisan yang justru bertambah ketika dibagi. Harta kalau dibagi, berkurang. Ilmu kalau dibagi, bertambah. Doa kalau dibagi, meluas. Itulah mungkin rahasia terbesar pesantren.
KH Didi Abdul Majid tidak meninggalkan sebelas anak untuk sekadar menjadi sebelas nama dalam silsilah keluarga.
Beliau meninggalkan sebelas kemungkinan.Sebelas jalan pengabdian. Sebelas penjaga nilai. Dan di atas semuanya, satu amanah:
jangan sampai cahaya ilmu yang sudah dinyalakan ayah padam di tangan anak-anaknya. Sebab seorang ayah boleh meninggalkan dunia.
