Tetapi selama anak-anaknya masih mengaji, masih mengajar, masih menjaga pesantren, masih menghormati guru, dan masih mendoakan orang tuanya—sebenarnya ia belum benar-benar pergi.
Namanya masih hidup. Doanya masih berjalan. Dan Sulalatul Huda masih menjadi rumah bagi doa itu. (red)
