TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Nama itu mendadak terkenal. Bukan karena menemukan obat kanker. Bukan pula karena meraih medali emas.
Nama itu tiba-tiba memenuhi linimasa. Menjadi bahan obrolan. Menjadi santapan akun-akun media sosial.
Norma Zahara. Semua bermula dari jemari.Jemari yang, entah karena emosi, terburu-buru, atau kurang berpikir panjang, menuliskan komentar yang kemudian dinilai kasar oleh banyak orang.
Baca Juga:Belum Siap Eksekusi, Padahal Sistem dan CCTV Sudah Dibuat untuk Digitalisasi Pengelolaan Parkir di Kota TasikmKalau Memang Ada, Gubernur Jabar KDM Minta BPN Pangandaran Membatalkan Sertifikat Harim Laut Pantai Madasari
Lalu ledakan itu terjadi. Di dunia digital, satu kalimat bisa lebih cepat menyebar daripada ambulans yang sedang membunyikan sirene.
Dalam hitungan jam, komentar itu tidak lagi dibahas. Yang dibahas justru orangnya.Identitasnya dikuliti. Tempat kerjanya diketahui.
Disebut bahwa ia merupakan pegawai PPPK di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Lalu muncul fakta lain. Ia adalah anak seorang anggota DPRD Kota Tasikmalaya.
Sejak itu, perkaranya berubah. Bukan lagi sekadar soal komentar. Melainkan tentang keluarga. Tentang jabatan ayahnya.
Tentang segala sesuatu yang sebenarnya belum tentu memiliki hubungan dengan kesalahan yang sedang dipersoalkan.
Norma sudah meminta maaf. Itu yang beredar. Permintaan maaf itu dilakukan secara langsung. Tetapi media sosial sering kali tidak mengenal kata selesai.
Permintaan maaf kadang justru dianggap sebagai awal babak baru. Hujatan semakin deras. Meme bermunculan. Foto-fotonya disebarkan. Nama lengkapnya beredar ke mana-mana.
Baca Juga:Digitalisasi Parkir Kota Tasikmalaya Baru Sebatas Mimpi, Vendor: Jangan Dipaksa SeragamPolemik Harim Laut Pantai Madasari Pangandaran Masih Menggantung, Klaim Kepemilikan Belum Disertai Sertifikat
Bahkan orang-orang yang tidak tahu persoalan awal ikut memberikan vonis. Tidak sedikit yang merasa paling benar.Padahal tidak mengenal orang yang sedang mereka hakimi.
Saya mencoba membayangkan. Bagaimana keadaan Norma hari ini? Apakah ia bisa makan dengan tenang?Apakah ia bisa tidur? Apakah ia masih berani membuka telepon genggamnya?Apakah setiap bunyi notifikasi membuat dadanya berdebar? Apakah ia masih nyaman datang bekerja?
Kalau ia sudah berkeluarga, bagaimana perasaan suaminya? Kalau ia sudah punya anak, bagaimana suatu hari nanti ketika anak itu bertanya, “Mama, kenapa foto Mama ada di mana-mana?” Pertanyaan seperti itu jauh lebih berat daripada ribuan komentar pedas.
Kita semua pernah salah. Bedanya, dulu kesalahan kita hanya diketahui beberapa orang. Hari ini, satu kesalahan bisa disaksikan ratusan ribu orang.
