Lalu diabadikan. Diunggah ulang. Dipotong. Dipelintir. Disebarkan tanpa henti. Dunia digital ternyata tidak hanya pandai mengingat. Ia juga sulit memaafkan.
Saya tidak sedang membela Norma. Kalau komentarnya memang keliru, tentu ia harus menerima kritik. Kalau kata-katanya melukai orang lain, ia wajib bertanggung jawab.
Tetapi ada perbedaan besar antara kritik dan penghukuman sosial. Kritik bertujuan memperbaiki. Penghukuman sosial sering kali bertujuan mempermalukan.
Baca Juga:Belum Siap Eksekusi, Padahal Sistem dan CCTV Sudah Dibuat untuk Digitalisasi Pengelolaan Parkir di Kota TasikmKalau Memang Ada, Gubernur Jabar KDM Minta BPN Pangandaran Membatalkan Sertifikat Harim Laut Pantai Madasari
Yang pertama melahirkan pembelajaran. Yang kedua bisa menghancurkan seseorang. Yang juga menarik, status ayahnya ikut dibawa-bawa. Menurut saya, itu tidak adil.
Norma adalah orang dewasa. Ia bekerja. Ia bertanggung jawab atas dirinya sendiri.Kalaupun ayahnya seorang anggota DPRD Kota Tasikmalaya, itu tidak otomatis menjadikan setiap kesalahan anak sebagai kesalahan ayah.
Begitu pula sebaliknya. Kalau seorang anak berprestasi, belum tentu itu hasil jabatan ayahnya. Maka ketika seorang anak berbuat keliru, jangan buru-buru menyeret seluruh keluarganya ke kursi terdakwa.Hukum mengenal pertanggungjawaban pribadi. Mengapa media sosial sering kali tidak?
Yang lebih mengkhawatirkan adalah budaya baru. Budaya menguliti identitas.Mencari alamat. Menyebarkan foto. Menggiring opini. Padahal kita tidak pernah tahu seberapa kuat mental seseorang.
Tidak semua orang mampu bertahan menghadapi badai komentar. Ada yang tampak diam, tetapi sesungguhnya sedang hancur. Ada yang tetap tersenyum, tetapi setiap malam menangis. Media sosial tidak pernah bisa mengukur itu.
Ironisnya, nama Norma Zahara justru menyimpan makna yang begitu indah.“Norma” berasal dari bahasa Latin, bermakna aturan, teladan, atau standar.
“Zahara” berasal dari bahasa Arab, bermakna bercahaya, bersinar, bunga yang mekar.
Baca Juga:Digitalisasi Parkir Kota Tasikmalaya Baru Sebatas Mimpi, Vendor: Jangan Dipaksa SeragamPolemik Harim Laut Pantai Madasari Pangandaran Masih Menggantung, Klaim Kepemilikan Belum Disertai Sertifikat
Jika digabungkan, nama itu dapat dimaknai sebagai “teladan yang bercahaya” atau “pembawa kebaikan yang bersinar.”
Barangkali hidup memang penuh ironi. Nama yang indah tidak membuat seseorang kebal dari kesalahan. Sebagaimana nama yang sederhana tidak menghalangi seseorang menjadi luar biasa.Yang menentukan bukan namanya. Melainkan bagaimana seseorang bangkit setelah jatuh.
Netizen memang cepat bereaksi. Kadang terlalu cepat. Jempol bergerak lebih dahulu daripada nurani. Barangkali inilah pekerjaan rumah kita bersama.
