KUA–PPAS 2027 dan Ujian Keberpihakan Anggaran: Apakah Pagu OPD Sudah Mengikuti Prioritas?

hut tasikmalaya
Usman Kusmana, Ketua Fraksi Gerindra Kabupaten Tasikmalaya
0 Komentar

Pada bidang pendidikan, anggaran harus dilihat berdasarkan kemampuannya memperbaiki mutu pembelajaran, rehabilitasi ruang kelas, kompetensi guru, angka partisipasi sekolah, penanganan anak tidak sekolah, serta pelaksanaan Program Satu Desa Satu Sarjana.

Program Satu Desa Satu Sarjana tidak boleh berhenti pada jumlah mahasiswa penerima bantuan. Harus ada hubungan antara bidang pendidikan yang dipilih, potensi desa, kebutuhan tenaga profesional, dan kontribusi lulusan terhadap pembangunan desa.

Dalam pendekatan theory of change, sebuah program harus mempunyai rantai perubahan yang jelas. Bantuan biaya kuliah merupakan input. Jumlah penerima beasiswa merupakan output. Meningkatnya jumlah lulusan dari keluarga kurang mampu adalah outcome awal. Sementara meningkatnya kapasitas sosial dan ekonomi desa merupakan dampak yang hendak dicapai. Tanpa rantai perubahan tersebut, program mudah berubah menjadi sekadar pembagian bantuan.

Baca Juga:40 Mahasiswa UBK Tasikmalaya Turun ke Masyarakat, Bawa Inovasi Daun Telang hingga Semprotan Antinyamuk HerbalUnsil Bekali Pemandu Body Rafting Pangandaran dengan Pelayanan Prima dan Digitalisasi

Hal serupa berlaku pada sektor kesehatan. Rencana pembangunan atau pengembangan rumah sakit tidak cukup hanya dihitung dari biaya gedung. Pemerintah harus menjelaskan ketersediaan lahan, kebutuhan dokter, tenaga kesehatan, alat medis, biaya operasional, sistem rujukan, serta jumlah masyarakat yang akan memperoleh akses lebih dekat.

Gedung rumah sakit hanyalah output. Outcome yang lebih penting adalah berkurangnya waktu tempuh pasien, meningkatnya akses pelayanan, membaiknya kualitas penanganan penyakit, dan menurunnya risiko kematian.

Pertanian dan Perikanan Jangan Hanya Menjadi Narasi

Tema transformasi ekonomi seharusnya menempatkan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan sebagai salah satu OPD utama. Kabupaten Tasikmalaya mempunyai basis ekonomi perdesaan yang kuat, lahan pertanian yang luas, potensi peternakan, perikanan budidaya, dan kawasan pesisir selatan.

Namun perhatian anggaran terhadap sektor pertanian dan perikanan sering kali tersebar dalam kegiatan kecil, bantuan sarana, pelatihan, dan program yang tidak terhubung menjadi satu rantai ekonomi.

Teori transformasi struktural menjelaskan bahwa pembangunan tidak harus meninggalkan pertanian. Yang diperlukan adalah mengubah pertanian berproduktivitas rendah menjadi sistem agribisnis yang memiliki nilai tambah.

Karena itu, anggaran pertanian harus dibangun melalui satu rantai yang utuh: produksi, benih, irigasi, penyuluhan, jalan usaha tani, pascapanen, pengolahan, pengemasan, pembiayaan, dan pemasaran.

0 Komentar