Ada yang sabar menunggu seluruh persyaratan selesai sebelum membuka usaha. Ada pula yang memilih mengambil risiko.
Barangkali mereka berpikir, kalau menunggu semua beres, biaya sewa terus berjalan. Listrik tetap harus dibayar. Karyawan sudah direkrut. Modal terus terkuras.
Maka jalan pintas terasa lebih menggoda. Logikanya sederhana. Buka dulu. Promosi dulu. Cari pelanggan dulu. Administrasi menyusul.
Baca Juga:Tiar N Karbala Membuka Jalan Kota Tasikmalaya!Paradoks Karaoke di Kota Tasik!
Namun jalan pintas selalu memiliki konsekuensi. Karena jalan pintas bukan berarti jaraknya lebih pendek. Kadang hanya membuat seseorang lebih cepat bertemu persoalan.
Yang menarik, pemerintah sendiri sebenarnya sudah menunjukkan sikap yang lebih lentur dibanding beberapa tahun lalu.
Kategori risiko usaha berubah. Perizinan dipermudah. Pelayanan dibuat lebih cepat.
Tetapi kelenturan pemerintah jangan sampai dibaca sebagai kelonggaran terhadap aturan. Sebab ada perbedaan besar antara mempermudah izin dengan membolehkan pelanggaran.
Yang satu adalah kebijakan. Yang satunya lagi adalah penyimpangan. Kota Tasikmalaya kini sedang berada di persimpangan.
Di satu sisi ingin membuka ruang investasi dan mendorong tumbuhnya usaha hiburan yang legal. Di sisi lain harus memastikan setiap pelaku usaha mematuhi aturan yang sama.
Kalau tidak, pesan yang sampai kepada publik bisa keliru. Yang patuh merasa dirugikan. Yang nekat merasa diuntungkan.
Padahal iklim usaha yang sehat bukan dibangun oleh siapa yang paling berani mengambil jalan pintas. Melainkan oleh siapa yang paling konsisten berjalan di jalur yang benar.
Baca Juga:Dua Telepon Tak Pernah Diam!Dari Medan Perang ke Mimbar Pesantren!
Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan Kota Tasikmalaya bukan sekadar bertambahnya jumlah karaoke. Tetapi bertambahnya jumlah usaha yang legal, tertib, dan memberi rasa adil bagi semua pelaku usaha.
Kalau tidak, media sosial mungkin berhasil mendatangkan pelanggan. Tetapi ia tidak pernah bisa menggantikan fungsi sebuah izin. Sebab algoritma bisa menaikkan sebuah unggahan. Namun hanya kepatuhan yang bisa menguatkan sebuah usaha. (red)
