35 Tahun Primajasa: ETA, Disiplin, dan Jalan Pengabdian H. Amir Mahpud

35 tahun Primajasa
Dr. Usman Kusmana, M.Si. (Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Tasikmalaya)
0 Komentar

Karena itu, transportasi publik mempunyai dimensi sosial yang sangat kuat. Ia menghubungkan bukan hanya satu tempat dengan tempat lain, tetapi juga manusia dengan harapan dan kesempatan.

Primajasa tumbuh karena mampu hadir di tengah kebutuhan tersebut. Namanya menjadi bagian dari keseharian masyarakat, terutama di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Bagi banyak warga Tasikmalaya, Garut, Bandung, Bogor, dan wilayah lainnya, Primajasa bukan sekadar kendaraan. Ia telah menjadi bagian dari pengalaman merantau, bekerja, belajar, berdagang, dan pulang ke kampung halaman.

Di sinilah sebuah perusahaan memperoleh apa yang dalam ilmu sosial disebut sebagai modal kepercayaan. Kepercayaan tidak lahir hanya dari promosi. Kepercayaan dibangun melalui pelayanan yang konsisten, keamanan, ketepatan waktu, keterjangkauan, dan kesediaan mendengarkan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga:Periksa Saksi Tragedi Cilembang, Polres Tasikmalaya Kota Ungkap Fakta BeginiKorban Dugaan Tindak Kekerasan di Cilembang Meninggal Dunia, Polres Tasikmalaya Kota Masih Lacak Jejak Pelaku

Usia 35 tahun membuktikan bahwa Primajasa mempunyai akar sosial yang kuat. Perusahaan ini bertahan karena masyarakat memberikan kepercayaan, sementara kepercayaan tersebut dijaga melalui pelayanan.

Ketangguhan Menghadapi Krisis

Karakter seorang pemimpin usaha paling jelas terlihat bukan ketika perusahaan sedang menikmati keuntungan, melainkan ketika menghadapi krisis.

Menurut H Amir Mahpud dalam beberapa kesempatan sering menyampaikan, bahwa Primajasa setidaknya berhasil melewati beberapa guncangan krisis yang melanda bangs aini, Krisis ekonomi dan politik tahun 1998, krisis ekonomi 2008, dan terbaru krisis Pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 merupakan salah satu ujian terberat bagi industri transportasi nasional. Pembatasan mobilitas membuat ribuan armada tidak dapat beroperasi dan pendapatan perusahaan menurun drastis.

Pada Juni 2020, H. Amir Mahpud mengungkapkan bahwa Primajasa Group kehilangan pendapatan setiap bulan akibat berhentinya operasional ribuan armada. Pada saat yang sama, perusahaan menyatakan tetap berupaya mempertahankan sekitar 5.000 karyawan dan memenuhi hak gaji mereka.

Keputusan tersebut merupakan wujud nyata dari prinsip “Tiada Hari Tanpa Benefit”. Bahkan dalam keadaan sulit, perusahaan berusaha mempertahankan manfaatnya bagi ribuan pekerja dan keluarga mereka.

Peristiwa itu memperlihatkan bahwa perusahaan bukan hanya kumpulan kendaraan dan angka dalam laporan keuangan. Di dalamnya terdapat manusia yang menggantungkan kehidupan.

Baca Juga:79 Mahasiswa UBK PSDKU Tasikmalaya Dinyatakan Lulus, 90 Persen Dinyatakan Telah BekerjaRatusan Warga Perum BMM Tasikmalaya Meriahkan HUT RI dengan Fun Walk dan Karnaval

Dari krisis tersebut kita belajar bahwa kepemimpinan bisnis membutuhkan keberanian moral. Pengusaha besar bukan hanya mereka yang mampu memperbesar keuntungan, tetapi juga mereka yang mempunyai kepedulian ketika keadaan sedang sulit.

0 Komentar