35 Tahun Primajasa: ETA, Disiplin, dan Jalan Pengabdian H. Amir Mahpud

35 tahun Primajasa
Dr. Usman Kusmana, M.Si. (Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Tasikmalaya)
0 Komentar

Dalam teori kewirausahaan, seorang pengusaha tidak hanya dipahami sebagai pemilik modal. Ia adalah sosok yang mampu membaca peluang, mengorganisasikan sumber daya, menghadapi ketidakpastian, serta menciptakan nilai bagi masyarakat.

H. Amir Mahpud memperlihatkan kualitas tersebut. Ia tidak sekadar membangun armada bus, tetapi membangun sistem pelayanan yang mempertemukan kota dengan desa, pusat ekonomi dengan daerah, serta tempat bekerja dengan kampung halaman.

ETA: Ekonomis, Tepat Waktu, dan Aman

Salah satu filosofi yang sering ditanamkan H. Amir Mahpud kepada jajaran Primajasa adalah konsep ETA: Ekonomis, Tepat Waktu, dan Aman.

Baca Juga:Periksa Saksi Tragedi Cilembang, Polres Tasikmalaya Kota Ungkap Fakta BeginiKorban Dugaan Tindak Kekerasan di Cilembang Meninggal Dunia, Polres Tasikmalaya Kota Masih Lacak Jejak Pelaku

Sekilas, ETA terlihat seperti slogan operasional perusahaan transportasi. Namun jika dibaca lebih dalam, konsep tersebut mengandung filosofi pelayanan yang utuh.

Ekonomis Ekonomis berarti pelayanan transportasi harus dapat dijangkau masyarakat. Perusahaan memang harus memperoleh keuntungan agar dapat bertahan, tetapi keuntungan tidak boleh memutus akses masyarakat terhadap pelayanan.

Prinsip ekonomis juga bukan sekadar menetapkan tarif yang terjangkau. Ia menuntut perusahaan mengelola bahan bakar, perawatan kendaraan, waktu perjalanan, sumber daya manusia, dan biaya operasional secara efisien.

Efisiensi bukan berarti mengurangi kualitas. Efisiensi adalah kemampuan menghasilkan pelayanan terbaik dengan penggunaan sumber daya yang tepat.

Dalam konteks yang lebih luas, prinsip ekonomis mengajarkan bahwa setiap keputusan usaha harus mempertimbangkan manfaat, biaya, dan dampaknya. Pengeluaran yang besar tidak selalu menghasilkan manfaat yang besar. Sebaliknya, pengelolaan yang cermat dapat menghadirkan pelayanan berkualitas tanpa membebani masyarakat.

Tepat Waktu. Bagi perusahaan transportasi, waktu adalah bentuk kepercayaan. Penumpang tidak hanya membeli tiket dan tempat duduk. Mereka mempercayakan agenda hidupnya kepada perusahaan transportasi. Keterlambatan dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan kerja, terlambat mengikuti perkuliahan, gagal memenuhi janji, atau kehilangan waktu bersama keluarga.

Karena itu, ketepatan waktu merupakan bentuk penghormatan terhadap penumpang. Prinsip tepat waktu juga mencerminkan profesionalisme seluruh unsur perusahaan. Kendaraan harus dipersiapkan sesuai jadwal, pengemudi dan awak kendaraan harus hadir tepat waktu, perawatan harus dilakukan secara berkala, sedangkan manajemen harus mampu mengantisipasi berbagai gangguan operasional. Ketepatan waktu tidak mungkin dicapai tanpa sistem dan disiplin.

0 Komentar