Tanggal 6 September 2026 menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar PT Primajasa Perdanaraya Utama. Tepat 35 tahun perusahaan transportasi ini menapaki perjalanan panjang dalam melayani mobilitas masyarakat Indonesia.
Tiga puluh lima tahun bukan waktu yang singkat. Dalam dunia usaha, usia tersebut menunjukkan kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan terus berkembang di tengah perubahan zaman. Terlebih, industri transportasi darat menghadapi tantangan yang tidak pernah sederhana: perubahan regulasi, kompetisi antarmoda, fluktuasi harga bahan bakar, perkembangan teknologi, perubahan perilaku penumpang, hingga guncangan besar seperti pandemi Covid-19.
Primajasa berhasil melewati berbagai ujian tersebut dan berkembang menjadi salah satu perusahaan transportasi nasional yang dikenal luas masyarakat. Di balik perjalanan itu terdapat sosok pendiri yang mempunyai keberanian, ketekunan, visi usaha, serta kemampuan membaca kebutuhan zaman: H. Amir Mahpud.
Baca Juga:Periksa Saksi Tragedi Cilembang, Polres Tasikmalaya Kota Ungkap Fakta BeginiKorban Dugaan Tindak Kekerasan di Cilembang Meninggal Dunia, Polres Tasikmalaya Kota Masih Lacak Jejak Pelaku
Namun keberhasilan Primajasa tidak hanya dibangun melalui penambahan armada dan perluasan trayek. Di dalamnya terdapat nilai, filosofi, dan budaya kerja yang secara konsisten ditanamkan H. Amir Mahpud kepada para karyawannya.
Nilai tersebut antara lain dirumuskan melalui konsep ETA: Ekonomis, Tepat Waktu, dan Aman, prinsip “Tiada Hari Tanpa Benefit”, serta budaya disiplin. Ketiga filosofi inilah yang ikut membentuk karakter Primajasa selama 35 tahun.
Berawal dari Keberanian untuk Mandiri
Primajasa didirikan pada 6 September 1991. H. Amir Mahpud tumbuh dalam keluarga yang telah lama berkecimpung dalam dunia transportasi. Ayahnya, H. Engkud Mahpud, merupakan perintis Mayasari Bakti yang namanya sangat dikenal dalam sejarah transportasi Jakarta.
Namun berada di lingkungan keluarga pengusaha besar tidak membuat H. Amir Mahpud sekadar menikmati usaha yang telah tersedia. Ia memilih membangun jalannya sendiri.
Pada 1991, H. Amir Mahpud merintis Primajasa secara mandiri dengan mengandalkan kerja keras dan kemampuan manajerialnya. Pada masa awal, Primajasa disebut memulai kegiatan usahanya dengan sekitar 25 unit bus yang melayani rute Bogor–Tangerang melalui Jakarta. Perusahaan ini kemudian berkembang dan pada 2001 memperluas pelayanan angkutan antarkota antarprovinsi, termasuk rute Jakarta–Bandung, Jakarta–Tasikmalaya, dan Jakarta–Garut.
Perjalanan tersebut memperlihatkan satu pelajaran penting: warisan keluarga dapat menjadi modal awal, tetapi keberhasilan tetap membutuhkan keberanian mengambil keputusan, disiplin, inovasi, dan daya tahan menghadapi risiko.
