Keberhasilan bukan hanya diukur dari apa yang diperoleh seseorang, tetapi dari manfaat yang diberikan kepada orang lain. Dengan demikian, perusahaan yang berhasil bukan sekadar perusahaan yang memperoleh laba. Perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang menciptakan lapangan kerja, menghidupi keluarga karyawan, menghubungkan masyarakat, menggerakkan perekonomian, dan menghadirkan pelayanan yang dibutuhkan publik.
Disiplin sebagai Fondasi
Konsep ETA dan “Tiada Hari Tanpa Benefit” tidak akan berjalan tanpa disiplin. Disiplin merupakan fondasi dari seluruh budaya kerja Primajasa. Dalam industri transportasi, kesalahan kecil dapat menimbulkan akibat besar. Keterlambatan pemeriksaan kendaraan, kelalaian terhadap kondisi ban, ketidakpatuhan terhadap jadwal perawatan, atau pelanggaran aturan keselamatan dapat mengancam nyawa manusia.
Karena itu, disiplin bukan sekadar kewajiban datang dan pulang tepat waktu. Disiplin adalah kepatuhan terhadap standar, tanggung jawab terhadap pekerjaan, konsistensi menjaga kualitas, serta kesediaan melakukan hal yang benar meskipun tidak sedang diawasi.
Baca Juga:Periksa Saksi Tragedi Cilembang, Polres Tasikmalaya Kota Ungkap Fakta BeginiKorban Dugaan Tindak Kekerasan di Cilembang Meninggal Dunia, Polres Tasikmalaya Kota Masih Lacak Jejak Pelaku
Disiplin juga harus dimulai dari pimpinan. Seorang pemimpin tidak dapat menuntut bawahannya tepat waktu jika ia sendiri sering terlambat. Pemimpin tidak dapat menuntut efisiensi apabila dirinya boros. Pemimpin tidak dapat menuntut profesionalisme apabila keputusan yang dibuatnya tidak berdasarkan standar yang jelas.
Di sinilah keteladanan menjadi penting.
Budaya organisasi tidak terutama dibentuk oleh tulisan yang dipasang di dinding kantor. Budaya organisasi dibentuk oleh perilaku yang dilakukan berulang kali, dicontohkan oleh pimpinan, dan dijalankan secara konsisten oleh seluruh karyawan.
Bagi H. Amir Mahpud, disiplin menjadi jembatan antara cita-cita dan hasil. Gagasan sebesar apa pun tidak akan menjadi kenyataan tanpa kedisiplinan dalam pelaksanaan.
Transportasi sebagai Pelayanan Sosial
Perusahaan transportasi tidak seharusnya diukur hanya dari jumlah armada, rute, terminal, atau pendapatan usaha. Di balik setiap bus yang berangkat terdapat kehidupan masyarakat yang ikut bergerak.
Ada pekerja yang berangkat mencari nafkah. Ada pelajar dan mahasiswa yang menempuh pendidikan. Ada pedagang yang membawa barang dagangan. Ada keluarga yang pulang menjenguk orang tua. Ada masyarakat yang membutuhkan akses menuju pusat pemerintahan, pelayanan kesehatan, dan kegiatan ekonomi.
