Van Bommel Bongkar Cara Belgia Hancurkan Italia di Olimpico: Kuncinya adalah Menyerang

Mark van Bommel
Mark van Bommel  Foto: Tangkapan layar Instagram@markvanbommel16
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Mark van Bommel langsung menemukan formula kemenangan pada debutnya sebagai pelatih Belgia.

Italia dibuat tak berkutik di Stadio Olimpico, dan sang pelatih menyebut satu kunci utama: intensitas serta keberanian untuk terus menyerang.

Belgia mengawali perjalanan bersama Van Bommel dengan kemenangan meyakinkan 2-0 atas Italia pada babak pertama UEFA Nations League.

Baca Juga:Serie A, Premier League, La Liga dan Bundesliga Kompak Lawan InfantinoManchester City Terancam Ditendang dari Liga Inggris: 114 dari 115 Tuduhan Financial Fair Play Terbukti?

Dua gol Belgia lahir dari kesalahan Italia saat membangun serangan dari lini belakang.

Mika Godts membuka keunggulan Belgia pada menit ke-20. Italia yang berusaha membangun permainan dari bawah kembali dihukum pada babak kedua.

Dodi Lukebakio menggandakan keunggulan pada menit ke-69 sekaligus memastikan Belgia pulang dari Olimpico dengan tiga poin.

Kekalahan tersebut membuat malam Italia terasa semakin pahit. Stadio Olimpico bahkan memberikan respons keras dengan mencemooh tim tuan rumah, baik ketika babak pertama berakhir maupun setelah pertandingan selesai.

Di tengah hasil buruk tersebut, terdapat beberapa catatan positif. Mancini memberikan kesempatan kepada Alessandro Romano untuk tampil sebagai starter, sementara Issa Doumbia dan Mohamed Ali Zoma menjalani debut pada babak kedua.

Dalam konferensi persnya, Van Bommel mengungkapkan bahwa Belgia memang sengaja bermain agresif untuk mengganggu proses pembangunan serangan Italia.

“Kuncinya adalah intensitas dan keinginan untuk menekan lawan,” kata Van Bommel kepada Sky Sport.

Baca Juga:Investigasi Jurnalis Prancis: Maldini Dipecat AC Milan karena Menolak Orang Dalam Cardinale Fabio Liverani: Hormati Keputusan Gattuso Menolak Mauro Icardi

Menurutnya, Belgia berusaha secepat mungkin merebut kembali bola setelah kehilangan penguasaan.

“Ketika kehilangan bola, kami harus segera merebutnya kembali. Pada babak pertama, kami melakukannya dengan baik dan menciptakan banyak peluang,” ujarnya.

Van Bommel mengakui Belgia tidak mampu mempertahankan level permainan yang sama setelah turun minum.

Jarak antarpemain sebenarnya masih sesuai rencana, tetapi beberapa pemain terlambat melakukan tekanan.

“Pada babak kedua kami tidak sebaik sebelumnya. Jarak antarpemain sudah bagus, tetapi kami sering terlambat. Lammens membuat penyelamatan penting, kemudian kami melakukan beberapa perubahan, mencetak gol kedua dan mampu mengontrol pertandingan hingga akhir,” tutur Van Bommel.

Pelatih Belgia itu pun puas dengan respons anak asuhnya. Hanya memiliki waktu tiga hari untuk mempersiapkan tim, Van Bommel merasa ide permainan yang dibawanya sudah mulai dipahami para pemain.

0 Komentar