Sebab masyarakat sebenarnya tidak alergi terhadap perubahan jadwal. Yang membuat masyarakat bertanya adalah ketika perubahan jadwal itu menimbulkan biaya tambahan, sementara alasan dan siapa yang mengambil keputusan tidak jelas.
Maulid itu mestinya sederhana. Orang datang. Bershalawat. Mendengarkan tausiah. Pulang membawa ketenangan. Jangan sampai yang dibawa pulang justru kuitansi tambahan.
Dan jangan sampai di sebuah kota yang sedang berusaha menghemat anggaran, sebuah acara keagamaan yang sudah 90 persen siap malah harus mengulang persiapan hanya karena satu kursi kosong.
Baca Juga:Audiensi di DPRD Kota Tasikmalaya, Vendor Bongkar Boroknya ParkirTender Kursi Ketua GAPENSI
Kursi wali kota. Padahal masjid punya banyak kursi. Dan yang lebih penting: Masjid tidak pernah kekurangan orang untuk duduk di kursi itu. Yang jangan sampai kosong justru akal sehat dalam mengelola uang rakyat. (red)
