Karena itu, pertumbuhan pendapatan KLBF pada 2026 diperkirakan masih akan lebih banyak berasal dari peningkatan volume dibandingkan kenaikan harga jual.
Margin Laba Kotor Turun Signifikan
Di tengah pertumbuhan pendapatan yang kuat, tekanan terbesar justru terlihat pada profitabilitas.
Margin laba kotor KLBF pada kuartal II 2026 turun menjadi 36,8 persen, dibandingkan 40,8 persen pada kuartal II 2025. Secara kumulatif, margin laba kotor pada semester I 2026 mengalami penurunan sekitar 220 basis poin.
Baca Juga:Laba Bersih TOWR Tembus Rp1,9 Triliun di Semester I 2026, Bisnis Non-Tower Jadi Penopang UtamaResmi! Pajak Toko Online Batal Berlaku Agustus 2026, Pemerintah Pilih Tunda Demi Jaga Daya Beli Masyarakat
Manajemen menjelaskan, sekitar 100 basis poin dari penurunan tersebut berasal dari kenaikan harga active pharmaceutical ingredients (API) serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, penurunan margin lainnya berasal dari perubahan komposisi pendapatan atau segment mix. Peningkatan kontribusi distribution and logistics yang memiliki margin lebih rendah menjadi salah satu faktor yang menekan margin konsolidasi KLBF.
Tekanan margin tersebut juga berpotensi belum berakhir. Dampak pelemahan rupiah terhadap biaya bahan baku disebut masih akan terasa pada semester II 2026 karena kenaikan biaya bahan baku baru akan tercermin secara penuh setelah persediaan yang ada saat ini digunakan.
Manajemen belum memberikan gambaran mengenai seberapa besar tambahan tekanan margin yang mungkin terjadi pada paruh kedua tahun ini.
Beban Selisih Kurs Ikut Menekan Laba
Selain margin laba kotor, kinerja laba bersih KLBF juga terbebani perubahan pada pos lainnya.
Pada semester I 2026, pos others berbalik menjadi beban sebesar Rp 47 miliar. Kondisi tersebut berbeda dengan semester I 2025 ketika pos ini masih memberikan keuntungan sekitar Rp 61 miliar.
Salah satu penyebabnya adalah kerugian selisih kurs yang mencapai sekitar Rp 55 miliar. Jika rupiah kembali mengalami pelemahan, tekanan dari pos tersebut berpotensi berlanjut pada periode berikutnya.
Baca Juga:33,5 Persen Lulusan Kuliah Salah Jalur Kerja, Menaker Ungkap Akar MasalahnyaLaba Bersih BBNI Semester I 2026 Naik 7 Persen Jadi Rp 10,8 Triliun, Sesuai Ekspektasi Pasar
KLBF juga menghadapi efek high-base dari keuntungan penjualan aset tetap sebesar sekitar Rp 80 miliar yang dibukukan pada semester I 2025. Tidak adanya keuntungan serupa pada tahun ini turut memengaruhi perbandingan laba bersih secara tahunan.
Risiko Pemangkasan Estimasi Laba 2026
Dengan margin yang diperkirakan masih menghadapi tekanan pada semester II 2026, momentum kinerja KLBF pada paruh kedua tahun ini berpotensi lebih lemah dibandingkan pola historis.
