Laba Bersih BBNI Semester I 2026 Naik 7 Persen Jadi Rp 10,8 Triliun, Sesuai Ekspektasi Pasar

Laba Bersih BBNI
Ilustrasi. (Hasil AI/ChatGPT)
0 Komentar

RADARTASIK.ID – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan kinerja yang sesuai dengan ekspektasi pasar pada semester pertama 2026. Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp 10,8 triliun sepanjang Januari–Juni 2026 atau tumbuh 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dilansir Stockbit, berdasarkan laporan keuangan perusahaan, capaian tersebut setara dengan sekitar 51 persen dari estimasi konsensus laba bersih BBNI sepanjang 2026.

Pada kuartal II 2026, BNI membukukan laba bersih sebesar Rp 5,1 triliun. Angka tersebut meningkat 8 persen secara tahunan (year on year/YoY), meski turun 10 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter on quarter/QoQ).

Baca Juga:Bikers Honda Vario Jawa Barat Taklukkan Sirkuit Mandalika, Rasakan Sensasi Balap di Lintasan InternasionalBelajar Bahasa Inggris Jadi Lebih Seru, SDN Mugarsari Tasikmalaya Terapkan Gamifikasi Digital dari Unsil

Pertumbuhan laba bersih BNI terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) yang naik 16 persen secara tahunan pada kuartal II 2026 dan meningkat 14 persen sepanjang semester pertama 2026.

Kenaikan pendapatan bunga bersih tersebut didukung pertumbuhan penyaluran kredit yang mencapai 24 persen secara tahunan hingga akhir Juni 2026. Selain itu, pendapatan nonbunga (Non-Interest Income) juga mencatat pertumbuhan sebesar 12 persen secara tahunan, sehingga turut memperkuat kinerja perseroan.

Dari sisi kualitas aset, BNI mampu mempertahankan kondisi yang stabil. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) maupun Loan at Risk (LAR) tidak mengalami pemburukan secara kuartalan pada kuartal II 2026.

Meski demikian, manajemen BNI merevisi turun proyeksi Net Interest Margin (NIM) untuk tahun 2026. Target NIM yang sebelumnya berada di kisaran 3,5–3,8 persen kini disesuaikan menjadi 3,3–3,5 persen.

Revisi tersebut dilakukan sebagai antisipasi terhadap potensi pengetatan likuiditas yang diperkirakan terjadi pada paruh kedua 2026.

Sementara itu, perseroan tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit tahun 2026 di kisaran 8–10 persen secara tahunan. Proyeksi biaya kredit (Cost of Credit/CoC) juga tidak berubah, yakni berada pada kisaran 1–1,2 persen.

Dengan pertumbuhan laba yang tetap positif, kualitas aset yang terjaga, serta panduan pertumbuhan kredit yang masih dipertahankan, kinerja BNI pada semester pertama 2026 dinilai masih berada di jalur yang sesuai dengan ekspektasi pasar, meskipun perseroan mulai mengantisipasi tekanan terhadap margin bunga akibat kondisi likuiditas pada paruh kedua tahun ini. (snd/stb)

0 Komentar