PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Kemarau panjang di Kabupaten Pangandaran mulai menekan aktivitas di lingkungan sekolah. Krisis air bersih kini dirasakan SMK Negeri 1 Padaherang yang dihuni sekitar 1.700 siswa.
Enam titik sumur yang selama ini menjadi sumber air sekolah mulai kehilangan debit.
Saat ini hanya tiga hingga empat sumur yang masih mengeluarkan air. Kondisi tersebut membuat distribusi air ke berbagai fasilitas sekolah tidak lagi berjalan normal.
Baca Juga:Telkomsel-PosDigi Bidik 200 Ribu Agen Pos Lewat Paket Sat SetProyek Drainase Zig-Zag Cimerak Kota Tasikmalaya Terus Disorot, PUTR: Dikerjakan Pemprov Jabar
Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMKN 1 Padaherang, Teguh, mengatakan sejumlah sumur sudah mulai mengering.
Sementara sumur yang masih bertahan harus dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sekolah secara bergiliran.
“Ada beberapa titik yang mulai mengering, ada juga yang alhamdulillah masih ada airnya,” kata Teguh, Rabu (7/10/2026).
Kondisi itu membuat pihak sekolah harus mengatur ulang instalasi air. Sejumlah toren yang sebelumnya mendapat pasokan dari sumur tertentu kini kosong karena sumber airnya mengering.
“Kami dari tim sarpras bagaimana caranya dengan kondisi sumber yang terbatas bisa menyuplai seluruh saluran air yang ada. Tentu tidak merata, sehingga harus ada instalasi ulang,” ujarnya.
Beberapa sumber air yang masih bertahan berada di depan sekolah dekat masjid, area belakang kantin, serta bagian belakang sekolah. Air dari titik-titik tersebut kemudian didistribusikan secara bergiliran.
Masalah paling terasa terjadi di fasilitas toilet. Tidak semua toilet mendapatkan pasokan air sehingga siswa harus mengantre di toilet yang masih memiliki air.
Baca Juga:Pohon Mahoni di Mangkubumi Kota Tasikmalaya Tumbang Mendadak, Lalu Lintas Sempat Buka TutupIni 25 kegiatan Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya
“Otomatis banyak siswa yang mengeluh harus antre di WC karena WC yang ada airnya terbatas,” ungkapnya.
Untuk mengurangi penumpukan, sekolah menerapkan pembagian toilet berdasarkan jurusan. Toilet tertentu diperuntukkan bagi siswa dari jurusan tertentu agar antrean tidak terkonsentrasi di satu lokasi.
“Kami mempunyai trik. Kami labeli siswa sesuai dengan jurusannya. Misalkan jurusan TKJ di sebelah sana, WC di sana diperuntukkan khusus untuk jurusan TKJ. Jadi mengantisipasi penumpukan,” jelas Teguh.
Persoalan air tidak hanya menyangkut toilet. Ketersediaan air juga dibutuhkan untuk wudu, aktivitas perkantoran, hingga kegiatan praktik di bengkel, termasuk mencuci kendaraan.
