KENDARI, RADARTASIK.ID– Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan pentingnya kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi dan dunia industri untuk mengurangi ketidaksesuaian atau mismatch antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja.
Upaya tersebut dinilai menjadi pekerjaan rumah bersama mengingat sekitar 33,5 persen lulusan perguruan tinggi di Indonesia bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
“Ada mismatch yang menjadi PR kita bersama,” ungkap Yassierli saat memberikan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (5/8/2026).
Baca Juga:Laba Bersih BBNI Semester I 2026 Naik 7 Persen Jadi Rp 10,8 Triliun, Sesuai Ekspektasi PasarLaba Bersih PGEO Semester Naik 15 Persen tapi di Bawah Ekspektasi, Ditopang Keuntungan Selisih Kurs
Menurutnya, selama ini lulusan perguruan tinggi kerap belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan dunia industri sehingga hubungan antara kampus dan sektor usaha harus semakin diperkuat.
Ia menjelaskan, penguatan kerja sama tersebut perlu dibarengi dengan transformasi pendidikan tinggi agar mampu menghasilkan lulusan yang lebih siap memasuki dunia kerja.
Selain mengantongi ijazah akademik, lulusan juga diharapkan memiliki sertifikasi kompetensi sebagai bukti kemampuan yang terukur dan relevan dengan kebutuhan industri.
Tak hanya kompetensi teknis, mahasiswa juga perlu dibekali berbagai keterampilan yang tidak dapat tergantikan oleh kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), seperti kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berempati, dan berpikir kritis.
Menurut Yassierli, kemampuan tersebut akan menjadi nilai tambah penting di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk mengembangkan pola kompetensi M-Shaped, yakni memiliki beberapa keahlian spesifik yang ditopang oleh satu kompetensi umum. Pendekatan tersebut dinilai membuat lulusan lebih adaptif dibandingkan hanya mengandalkan satu bidang spesialisasi.
Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, Kementerian Ketenagakerjaan terus memperluas Program Pemagangan Nasional atau MagangHub. Pada 2026, program tersebut ditargetkan menjangkau 150.000 peserta, meningkat 50.000 peserta dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga:Bikers Honda Vario Jawa Barat Taklukkan Sirkuit Mandalika, Rasakan Sensasi Balap di Lintasan InternasionalBelajar Bahasa Inggris Jadi Lebih Seru, SDN Mugarsari Tasikmalaya Terapkan Gamifikasi Digital dari Unsil
Melalui program itu, peserta akan memperoleh uang saku setara upah minimum selama enam bulan sekaligus mendapatkan pengalaman kerja langsung di dunia industri.
Yassierli menilai MagangHub merupakan investasi pemerintah untuk memperkecil kesenjangan kompetensi antara lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Selain itu, Menaker menekankan bahwa kesiapan menghadapi dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh keterampilan, tetapi juga pola pikir.
