RADARTASIK.ID – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan laba bersih sebesar US$80 juta sepanjang semester pertama 2026 atau tumbuh 15 persen secara tahunan (year on year/YoY). Meski mencatat pertumbuhan, capaian tersebut dinilai masih sedikit di bawah ekspektasi pasar karena sebagian besar kenaikan laba berasal dari keuntungan selisih kurs, bukan peningkatan kinerja operasional.
Dilansir Stockbit, berdasarkan paparan manajemen dalam earnings call yang digelar pada Senin (3/8/2026), laba bersih PGEO pada kuartal II 2026 tercatat sebesar US$36 juta, turun 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan melemah 19 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Theodorus Melvin, Investment Analyst Stockbit, menilai realisasi laba bersih semester pertama baru mencapai sekitar 52 persen dari estimasi konsensus sepanjang 2026. Dengan demikian, PGEO masih harus membukukan laba sekitar US$75 juta pada semester kedua agar dapat memenuhi target tersebut.
Baca Juga:Bikers Honda Vario Jawa Barat Taklukkan Sirkuit Mandalika, Rasakan Sensasi Balap di Lintasan InternasionalBelajar Bahasa Inggris Jadi Lebih Seru, SDN Mugarsari Tasikmalaya Terapkan Gamifikasi Digital dari Unsil
Tantangan diperkirakan akan semakin besar pada paruh kedua tahun ini. Pasalnya, volume produksi listrik diproyeksikan menurun akibat jadwal pemeliharaan (maintenance) Unit Lahendong serta belum adanya pembangkit listrik baru yang mulai beroperasi hingga 2027.
Dari sisi operasional, kenaikan pendapatan yang berasal dari Lumut Balai Unit 2 belum mampu meningkatkan laba usaha. Pendapatan pada kuartal II 2026 bertambah sekitar US$15 juta, namun peningkatan tersebut diimbangi oleh kenaikan beban usaha sebesar US$17 juta.
Kenaikan biaya terutama berasal dari membengkaknya beban pokok pendapatan lainnya serta beban umum dan administrasi yang diperkirakan berkaitan dengan ekspansi perusahaan. Selain itu, beban penyusutan juga meningkat seiring mulai dibebankannya nilai investasi proyek tersebut ke laporan laba rugi.
Secara kumulatif, peningkatan laba bersih PGEO pada semester pertama seluruhnya ditopang oleh keuntungan selisih kurs. Perusahaan membukukan laba selisih kurs sebesar US$5 juta, berbalik dari rugi US$13 juta pada periode yang sama tahun lalu. Kondisi tersebut dipicu oleh pelemahan nilai tukar yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat, mengingat sebagian pinjaman PGEO dari JICA menggunakan mata uang yen.
Di sisi operasional, PGEO mencatat perkembangan positif dengan volume produksi yang meningkat 14 persen YoY, sementara tarif listrik rata-rata naik 9 persen menjadi US$0,0496 per kWh.
