Untuk sepanjang 2026, manajemen tetap mempertahankan target produksi sebesar 5.255 GWh, atau naik sekitar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga semester pertama, realisasi produksi telah mencapai sekitar 52 persen dari target tersebut.
Namun demikian, produksi dari wilayah Lahendong diperkirakan turun sekitar 7 persen sepanjang tahun karena proses pemeliharaan fasilitas. Di sisi pengembangan bisnis, PGEO menargetkan penandatanganan perjanjian jual beli listrik berkapasitas 45 MW dengan PLN Indonesia Power untuk proyek Ulubelu dan Lahendong. Perseroan juga mempercepat negosiasi perjanjian jual beli listrik untuk Lahendong Unit 7 dan 8 pada semester kedua 2026. Sementara itu, proyek terdekat yang dijadwalkan mulai beroperasi secara komersial adalah Ulubelu pada 2027.
Stockbit memproyeksikan laba bersih PGEO pada 2026 akan berada di kisaran bawah target manajemen, yakni US$150 juta hingga US$160 juta, kecuali jika pelemahan yen terhadap dolar AS kembali memberikan keuntungan selisih kurs yang signifikan.
Baca Juga:Bikers Honda Vario Jawa Barat Taklukkan Sirkuit Mandalika, Rasakan Sensasi Balap di Lintasan InternasionalBelajar Bahasa Inggris Jadi Lebih Seru, SDN Mugarsari Tasikmalaya Terapkan Gamifikasi Digital dari Unsil
Tekanan terhadap kinerja juga diperkirakan berlanjut seiring meningkatnya biaya ekspansi. Beban pokok pendapatan serta beban umum dan administrasi pada semester pertama tercatat naik 27 persen YoY menjadi US$121 juta. Di saat yang sama, belanja modal (capex) diproyeksikan melonjak dari sekitar US$210 juta pada 2026 menjadi US$628 juta pada 2027 untuk mendukung target pengembangan kapasitas sekitar 1 GW pada 2028.
Meski demikian, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menjadi katalis positif. Di antaranya adalah rencana revisi Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 yang membuka peluang penyesuaian tarif listrik panas bumi, potensi pelemahan yen Jepang yang kembali menguntungkan posisi keuangan PGEO, serta percepatan penyelesaian proyek ekspansi dan maintenance yang dapat meningkatkan volume produksi lebih cepat dari perkiraan.
Sebaliknya, sejumlah risiko juga perlu dicermati, seperti potensi tidak tercapainya target laba akibat penurunan produksi dan kenaikan biaya ekspansi, meningkatnya kebutuhan belanja modal yang berpotensi membatasi ruang pembagian dividen, serta rasio free float perseroan yang masih berada di kisaran 11 persen, di bawah ketentuan minimum Bursa sebesar 15 persen. (snd/stb)
