TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada satu pelajaran yang terus berulang dalam sejarah politik. Rakyat tidak selalu memilih pemimpin yang paling pintar.
Mereka lebih sering memilih pemimpin yang paling mereka rasakan hadir. Perasaan.
Ya, politik sering kali dimenangkan oleh perasaan. Bukan semata-mata oleh angka.
Baca Juga:Prabowo, KDM (Part 2): Dari Politik Kekuasaan Menuju Politik KehadiranPrabowo, KDM, dan Politik Sandi Yudha (Part 1)
Seratus tahun lalu, sosiolog Jerman Max Weber membagi sumber kekuasaan menjadi tiga. Ada kekuasaan yang lahir dari tradisi. Ada yang lahir dari hukum dan lembaga. Dan ada yang lahir dari karisma.
Yang terakhir inilah yang paling sulit dijelaskan, tetapi paling mudah dirasakan. Karisma bukan sekadar wajah yang dikenal. Bukan pula suara yang lantang.
Karisma adalah ketika masyarakat percaya seseorang mampu menyelesaikan persoalan yang orang lain anggap mustahil.
Kepercayaan itu sering kali datang lebih dulu daripada bukti. Dan ketika kepercayaan telah tumbuh, legitimasi mengikuti.
Fenomena Kang Dedi Mulyadi dapat dibaca melalui kacamata itu. Di tengah keluhan masyarakat terhadap birokrasi yang lambat, berbelit, dan sering terasa jauh, ia tampil sebagai kebalikannya.
Ia datang tanpa banyak protokol. Berbicara tanpa bahasa birokrasi. Memutuskan tanpa bertele-tele. Kadang menegur. Kadang bercanda. Kadang membuat drama sosial yang justru mudah dipahami rakyat.
Dalam dunia administrasi, mungkin cara seperti itu dianggap tidak lazim. Namun dalam dunia politik, justru itulah yang membangun daya tarik.
Baca Juga:Jalan Satset Karaoke!Tiar N Karbala Membuka Jalan Kota Tasikmalaya!
Masyarakat sebenarnya tidak selalu meminta pemimpin yang sempurna. Mereka hanya ingin melihat seseorang yang mau bergerak.
Karena terlalu lama mereka menyaksikan meja rapat yang penuh. Tetapi jalan tetap berlubang. Dokumen bertumpuk. Tetapi sungai tetap kotor. Anggaran disahkan. Tetapi sekolah tetap rusak.
Ketika keadaan seperti itu berlangsung bertahun-tahun, siapa pun yang datang membawa tindakan akan terlihat berbeda. Bukan semata karena tindakannya luar biasa. Tetapi karena pembandingnya terlalu lambat.
Di sinilah karisma menemukan panggungnya. Semakin birokrasi dianggap lamban, semakin besar ruang bagi pemimpin yang tampil spontan.
Semakin masyarakat kecewa terhadap prosedur, semakin tinggi apresiasi terhadap keberanian menerobos prosedur.
Itulah paradoks politik modern.
Birokrasi dibangun untuk menjaga ketertiban. Tetapi ketika ketertiban berubah menjadi keterlambatan, publik mulai mencari jalan pintas. Dan jalan pintas itu sering kali bernama seorang pemimpin.
