TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dugaan seorang guru SMA di Tasikmalaya menjadi koordinator pengepul calon mahasiswa baru Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mendapat sorotan. Kasus tersebut kini tengah dikembangkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Pengamat dan akademisi Tasikmalaya, Asep M Tamam, menilai kasus tersebut harus menjadi momentum untuk membongkar celah yang memungkinkan terjadinya praktik korupsi dan penyalahgunaan amanah di lingkungan pendidikan.
“Korupsi itu tidak memandang status, tidak memandang agama, tidak memandang profesi,” kata Asep kepada Radar, Senin (14/9/2026).
Baca Juga:Dibidik Dunia Kerja, SMK Bhakti Kencana Tasikmalaya Perkuat Mutu Pendidikan35 Tahun Primajasa: ETA, Disiplin, dan Jalan Pengabdian H. Amir Mahpud
Menurutnya, dugaan kasus tersebut turut mencoreng dunia pendidikan dan nama Tasikmalaya. Karena itu, pengawasan terhadap institusi pendidikan, khususnya yang berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi, perlu diperkuat.
“Ketika dunia pendidikan tercoreng, ada lubang besar yang perlu ditambal,” ujarnya.
Asep menilai celah praktik bermuatan korupsi di dunia pendidikan cukup banyak dan tidak semuanya terungkap karena sebagian berlangsung dalam skala kecil.
“Dari kasta terendah sampai kasta tertinggi. Dari yang ratusan ribu sampai ratusan miliar,” katanya.
Ia mencontohkan pengelolaan dana pendidikan seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang tetap perlu diawasi. Menurutnya, praktik bermasalah dengan nominal kecil kerap luput dari perhatian, padahal jika dibiarkan dapat menjadi kebiasaan yang merusak tata kelola pendidikan.
Asep juga menilai menurunnya laporan dugaan pungutan dalam penerimaan siswa baru tingkat SMA dibandingkan tahun-tahun sebelumnya menunjukkan adanya evaluasi. Namun, evaluasi serupa dinilai perlu dilakukan terhadap dugaan pengepulan calon mahasiswa yang kini ditangani KPK.
“Ini harus menjadi pelajaran. Mudah-mudahan ini menjadi titik akhir,” tegasnya.
Baca Juga:Periksa Saksi Tragedi Cilembang, Polres Tasikmalaya Kota Ungkap Fakta BeginiKorban Dugaan Tindak Kekerasan di Cilembang Meninggal Dunia, Polres Tasikmalaya Kota Masih Lacak Jejak Pelaku
Ia mengingatkan agar kasus tersebut tidak berhenti sebagai “dentuman” sesaat. Tanpa pembenahan, bukan tidak mungkin praktik serupa terjadi di institusi pendidikan lain.
“Dikhawatirkan berdentum itu ternyata untuk kampus-kampus besar lainnya juga terjadi hal-hal seperti ini,” ujarnya.
Menurut Asep, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan transfer ilmu, tetapi juga pembentukan nilai amanah dan integritas. Karena itu, perilaku para pengelola pendidikan menjadi bagian penting dari pendidikan itu sendiri.
