Pengelolaan Sampah Bakal Masuk Kurikulum Sekolah di Kota Tasikmalaya

Kurikulum pendidikan sekolah, pengelolaan sampah, dinas pendidikan kota tasikmalaya
Kabid SD sekaligus Plt Sekretaris Disdik Kota Tasikmalaya Indra Risdianto membicarakan pendidikan pengolahan sampah dengan Kabid Pengelolaan Sampah DLH Feri Arif Maulana, Senin (5/10/2026). (Rangga Jatnika/Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID—Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya berencana memasukkan materi pembelajaran pengelolaan sampah dalam kurikulum Sekolah Dasar (SD). Hal ini sebagai upaya mengintensifkan penguatan kesadaran soal lingkungan sejak dini.

Kesadaran masyarakat dalam hal kebersihan lingkungan masih terstigma soal bagaimana membuang sampah. Hal itu sebagaimana ajaran di sekolah di mana siswa dididik untuk membuang sampah ke tempat semestinya.

Padahal, kebutuhan penanganan sampah sudah sejak lama berubah. Di mana masyarakat harus bisa mengurangi produksi sampah melalui daur ulang atau pun pengolahan lainnya.

Baca Juga:Tim Penataan Dadaha Masih Lumpuh, Pemkot Tasikmalaya Belum Tunjuk Ketua BaruKota Tasik, Se-Bercanda Ini!

Berdasarkan persoalan tersebut, ditambah dengan berbagai usulan, Disdik Kota Tasikmalaya akan membenahi materi pelajaran dalam kurikulum. Di mana pendidikan soal pelestarian lingkungan tidak lagi sebatas membuang sampah, namun juga mengolahnya.

Kabid SD sekaligus Plt Sekretaris Disdik Kota Tasikmalaya Indra Risdianto mengatakan bahwa saat ini beberapa SD sudah memberikan pendidikan pengelolaan sampah. Pihaknya ingin pendidikan tersebut bisa berlaku di semua sekolah dengan memasukkannya ke dalam kurikulum. “Rencananya kita masukkan di kurikulum pembelajaran untuk kelas 4,5 dan 6, tapi kita lihat nanti perkembangannya,” ucapnya, Senin (5/10/2026).

Dalam waktu dekat ini, pihaknya akan menyusun draft materi pembelajarannya dengan melibatkan pihak-pihak terkait. Diharapkan materi tersebut sudah bisa berjalan di tahun ajaran 2027-2028. “Mudah-mudahan tahun ajaran depan sudah berjalan,” ucapnya.

Dengan masuknya materi pendidikan pengolahan sampah di kurikulum, siswa bisa lebih intens menerima pelajarannya. Dengan begitu, secara bertahap masyarakat bisa terbiasa mengolah sampah, bukan sekadar membuangnya.

Kabid Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya Feri Arif Maulana mengatakan bahwa saat ini stigma membuang sampah memang masih kuat di masyarakat. Hal ini berdampak pada volume sampah yang harus diangkut dan menjadi beban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semakin tinggi. “Jadi semangat pengurangan sampahnya masih lemah,” ujarnya.

Pihaknya pun mendukung ketika pengolahan sampah masuk dalam kurikulum pembelajaran sekolah. Dengan harapan, anak-anak mulai mengenal dan dibiasakan mengurangi produksi sampah. “Setidaknya yang organik, bisa diolah menjadi eco enzyme atau kompos,” ucapnya.(Rangga Jatnika)

0 Komentar