TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Politik Indonesia sedang mengalami pergeseran yang nyaris tak terasa. Bukan pergantian rezim. Bukan pula perpindahan koalisi.
Yang berubah adalah cara seorang pemimpin memperoleh legitimasi. Dulu, legitimasi lahir dari kekuasaan. Kini, ia lahir dari kehadiran.
Prabowo Subianto hari ini berdiri di puncak piramida kekuasaan. Ia Presiden Republik Indonesia. Ia Ketua Umum Partai Gerindra. Ia menjadi poros utama koalisi pemerintahan.
Baca Juga:Prabowo, KDM, dan Politik Sandi Yudha (Part 1)Jalan Satset Karaoke!
Bahasa yang digunakannya adalah bahasa negara. Tentang ketahanan pangan. Tentang pertahanan nasional. Tentang hilirisasi industri. Tentang geopolitik. Tentang masa depan Indonesia di tengah perebutan pengaruh dunia.
Ia berbicara dari podium yang tinggi. Dan memang begitulah semestinya seorang kepala negara. Presiden harus memikirkan seribu persoalan dalam satu tarikan napas.
Ia tidak mungkin hadir di setiap gang sempit. Tidak mungkin datang ke setiap rumah yang atapnya bocor. Tidak mungkin menjawab semua keluhan warga satu per satu.
Negara terlalu besar untuk dipimpin dengan kaki semata. Negara membutuhkan arah. Dan arah itulah yang sedang dimainkan Prabowo.
Namun, politik memiliki hukum yang berbeda. Rakyat sering kali tidak mengingat siapa yang menyusun dokumen perencanaan. Mereka lebih mudah mengingat siapa yang datang.
Siapa yang duduk di tikar rumah mereka. Siapa yang menyentuh bahu mereka. Siapa yang mendengar keluhannya tanpa pengeras suara.
Di situlah Kang Dedi Mulyadi menemukan ruang politiknya. Ia tidak hadir sebagai pembicara. Ia hadir sebagai pendengar.
Baca Juga:Tiar N Karbala Membuka Jalan Kota Tasikmalaya!Paradoks Karaoke di Kota Tasik!
Jika Prabowo membangun politik dari Istana, KDM membangunnya dari halaman rumah warga. Ia datang ke jalan yang retak. Ke sekolah yang hampir roboh. Ke sungai yang dipenuhi sampah. Ke pasar yang mulai sepi. Ke permukiman yang lama tidak disentuh birokrasi.
Kadang ia hanya membawa mikrofon kecil. Kadang hanya membawa telepon genggam. Namun dari alat sederhana itulah lahir jutaan penonton. Dan dari jutaan penonton itu lahir jutaan persepsi.
Di sinilah media sosial mengubah definisi kepemimpinan. Dulu, seorang kepala daerah dinilai dari tebalnya laporan. Kini, ia dinilai dari tipisnya jarak dengan rakyat.
