Jadi Warisan Budaya Takbenda, Angklung Panyingkiran Ciamis Tembus Pasar Internasional

angklung panyingkiran ciamis
Sekretaris Yayasan Kampung Angklung Desa Panyingkiran Nunu Nurjaman saat menunjukkan akun toko Shopee \"Saung Angklung 72\" saat di Sekretariat Yayasan Kampung Angklung Desa Panyingkiran, Senin (3/8/2026). (Fatkhur Rizqi/Radar Tasikmalaya) 
0 Komentar

CIAMIS, RADARTASIK.ID – Kampung Angklung di Desa Panyingkiran, Kecamatan Ciamis, menjadi salah satu pusat pelestarian sekaligus produksi angklung di Jawa Barat. Tidak hanya menjaga warisan budaya, sentra kerajinan ini juga berhasil mengembangkan angklung sebagai produk ekonomi kreatif yang mampu menembus pasar internasional melalui pemasaran digital.

Angklung sendiri telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 16 November 2010. Pengakuan tersebut menjadi dorongan untuk terus melestarikan alat musik tradisional khas Jawa Barat melalui pendidikan, pertunjukan seni, hingga pengembangan industri kreatif berbasis budaya.

Di Dusun Linggamanik RT 02 RW 07 Desa Panyingkiran, masyarakat telah lama memproduksi angklung secara turun-temurun. Kampung tersebut kini dikenal sebagai Kampung Angklung Ciamis.

Baca Juga:Deru Mesin Merawat Silaturahmi, Hamida Motor Community Indonesia Persiapkan Touring ke LampungLangkah Berani Asep Muslim: Tolak Baju Adat Baru, Dorong Efisiensi Anggaran DPRD Tasikmalaya

Sekretaris Yayasan Kampung Angklung Desa Panyingkiran Nunu Nurjaman mengatakan Kampung Angklung di Jawa Barat bukan hanya berada di Bandung, tetapi juga ada di Ciamis. Kampung tersebut dirintis oleh mertuanya, Mumu Alimudin, yang sebelumnya bekerja sebagai pembuat angklung di Kota Banjar.

“Dulunya Bapak Mumu pekerja pembuat angklung di Kota Banjar tahun 1975. Kemudian hijrah ke Desa Panyingkiran pada tahun 1992 dan memutuskan untuk merintis usaha produksi angklung sendiri,” katanya kepada Radar, Senin (3/8/2026).

Keahlian membuat angklung kemudian diwariskan kepada keluarga dan warga sekitar. Upaya tersebut akhirnya mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Ciamis yang menggagas pembentukan Kampung Angklung pada 2014.

“2014 dideklarasikan sebagai Kampung Angklung Ciamis. Tahun 2016 dari Pemkab Ciamis meresmikannya dengan SK Bupati Kabupaten Ciamis,” ujarnya.

Sejak 2020, Kampung Angklung berada di bawah naungan Yayasan Kampung Angklung. Saat ini terdapat 10 kelompok pengrajin yang aktif memproduksi sekaligus memasarkan angklung ke berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri.

“Saat ini ada 10 kelompok pengrajin Kampung Angklung Desa Panyingkiran yang membuat dan menjual angklung. Pesanan tersebut dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara,” katanya.

Untuk memperluas pasar, Nunu mulai memanfaatkan marketplace pada 2017. Melalui toko Shopee bernama Saung Angklung 72, pemasaran angklung semakin berkembang.

Baca Juga:Ulama dan Ormas Islam Datangi DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Ajukan Naskah Akademik Raperda Ketahanan KeluargaDisdikbud Kabupaten Tasikmalaya Sebut Pembangunan Kelas Baru SDN Kubangsari Taraju Belum Masuk Rencana

“Akun toko saya yang di Shopee ‘Saung Angklung 72’ untuk pemasaran angklung. Dengan harga satuan nada Rp 40.000 hingga satu set ada 25 nada dihargai Rp 3 jutaan, jadi saat ini kalau total order sekitar 500 set nada dan kalau satuan nada ada lebih dari 900 angklung,” ujarnya.

0 Komentar