Menurutnya, sistem penjualan melalui marketplace juga berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan para pengrajin karena setiap pesanan didistribusikan kepada anggota yayasan sesuai kapasitas produksi.
“Sebab, ketika ada yang order Angklung satu set dari Shopee langsung ke para pengrajin, sehingga membantu memberdayakan para pengrajin. Itu untuk mengejar waktu pengiriman, dengan pengaturan pre-order selama 7 hari untuk proses produksi,” katanya.
Kepercayaan konsumen juga tercermin dari penilaian toko yang mencapai 4,8 bintang.
“Bahkan tokonya di Shopee memiliki penilaian ratingnya bagus 4,8 bintang, karena memang Kampung Angklungnya mengutamakan kualitas,” ujarnya.
Baca Juga:Deru Mesin Merawat Silaturahmi, Hamida Motor Community Indonesia Persiapkan Touring ke LampungLangkah Berani Asep Muslim: Tolak Baju Adat Baru, Dorong Efisiensi Anggaran DPRD Tasikmalaya
Keberhasilan tersebut membawa Kampung Angklung mengikuti program ekspor Shopee. Dari sana, pesanan datang dari sejumlah negara di Asia Tenggara.
“Saya sempat mengirim order ke Filipina, Singapura dan Malaysia. Bahkan pernah mengirim ke Malaysia sekitar ada 20 set atau 160 nada angklung, sehingga sampai kebingungan dalam pengepakan,” katanya.
Meski demikian, aktivitas penjualan melalui marketplace untuk sementara dihentikan karena keterbatasan sumber daya manusia. Saat ini pengelola lebih fokus pada kegiatan pertunjukan angklung di Lembur Pakuan.
“Karena belum ada yang mengurus marketplace, sementara berhenti dulu semenjak bermain angklung di lembur Pakuan, sehingga takut tak tergarap nantinya. Karena selama ini merangkap membuat angklung dan mengurus marketplace sendiri tidak ada admin pemasaran,” ujarnya.
Ke depan, Yayasan Kampung Angklung ingin mengelola media sosial dan marketplace secara lebih profesional agar pemasaran dapat kembali berjalan optimal.
“Ingin punya admin untuk mengelola media sosial dan marketplace, supaya fokus dalam mengelolanya. Sehingga diharapkan semakin dikenal dan mampu melestarikan alat musik tradisional dari bambu ini,” katanya.
Selain menjadi sentra produksi, Kampung Angklung juga berkembang sebagai destinasi wisata edukasi budaya. Promosi dilakukan melalui pertunjukan seni, media sosial, hingga pemasaran digital sehingga mampu menarik kunjungan wisatawan dari dalam maupun luar negeri.
Baca Juga:Ulama dan Ormas Islam Datangi DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Ajukan Naskah Akademik Raperda Ketahanan KeluargaDisdikbud Kabupaten Tasikmalaya Sebut Pembangunan Kelas Baru SDN Kubangsari Taraju Belum Masuk Rencana
“Dengan semakin terkenal ini, bisa mendatangkan pengunjung lokal hingga manca negara seperti anak-anak TK saat outing class untuk kunjungan mengenal dan bermain Angklung serta organisasi wanita. Hingga wisatawan mancanegara pernah berkunjung ke sini dari Jepang, Malaysia, Jepang, dan Australia,” ujarnya.
