PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Desa Wisata Margacinta Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran mendapatkan pengabdian pada masyarakat dari Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya. Itu untuk Pendampingan Ekonomi Inklusif melalui Standarisasi Mutu Produk UMKM dan Inovasi Souvenir Kustomisasi Berbasis Kearifan Lokal Margacinta.
Pelaksana kegiatan tersebut dari dosen-dosen dari Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsil Tasikmalaya yaitu Dr Nanang Rusliana SE MSi, Dwi Hastuti Lestari Komarlina SE MSi, Rifky Wahyu Ramadhan SE MSi, Angga Yogaswara, SE ME, Fita Purwaningsih SE ME, serta Luthfie Hadie Nugraha Darmawan ST MM, bersama beberapa mahasiswa melaksanakan Pengabdian pada Masyarakat pada Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran di Aula Desa Margacinta, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan dilaksanakan dalam skema Program Pengabdian Berbasis Kewirausahaan (PPBK) Universitas Siliwangi Tahun 2026. Dengan narasumber Pramudita Dewanti.
Baca Juga:Kadisdik Tanpa Gimmik!UMTAS Latih Kader Posyandu Sukamaju 2 Olah Pangan Lokal Jadi PMT Bergizi
Ketua tim pelaksana, Dr Nanang Rusliana SE MSi menyampaikan Desa Margacinta merupakan satu dari tujuh desa di Kecamatan Cijulang yang telah ditetapkan sebagai desa wisata. Berada pada jalur penghubung destinasi unggulan Green Canyon dan Pantai Batukaras, desa ini memiliki potensi ekonomi kreatif yang tersebar di tujuh dusun, mulai dari produk olahan pangan, madu alami, hingga kerajinan kolotok. Meski demikian, potensi tersebut belum tergarap optimal.
Estimasi kunjungan wisatawan ke Desa Margacinta baru berkisar 15.000–20.000 orang per tahun, relatif lebih rendah dibanding desa wisata lain di Kabupaten Pangandaran
Di sisi lain juga, bahwa sebagian besar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di desa tersebut masih menggunakan metode produksi tradisional yang belum terstandar. Kondisi ini membuat kualitas produk tidak konsisten, kemasan masih sederhana, serta pemasaran cenderung pasif dengan menunggu wisatawan datang. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, lebih dari 60 persen UMKM di Indonesia belum menerapkan standar produksi yang konsisten.
“Karena itu, tema pengabdian diarahkan pada peningkatan mutu produk sekaligus mengintegrasikannya dengan ekosistem pariwisata desa.
Menurut tim, kondisi ini paling terlihat pada dua hal, yakni kemasan dan pemasaran. Dari sisi kemasan, produk UMKM Desa Margacinta umumnya masih menggunakan kemasan yang sederhana dan seragam, belum memiliki desain, label, maupun informasi produk yang menarik sebagaimana standar oleh-oleh wisata,” katanya kepada Radar Tasikmalaya, Rabu (29/7/2026).
