TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada kepala dinas yang datang dengan gebrakan. Ada yang datang dengan janji kinerja. Ada pula yang datang dengan baliho dan konten media sosial setiap pagi, siang, sore, malam.
Lalu ada Dr. H. Rojab Riswan Taufik, S.Sos., M.Si. Ia memilih jalan yang berbeda: tenang. Nyaris sunyi.
Sudah hampir satu tahun sejak 11 Agustus 2025 ia memimpin Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya. Waktu yang tidak lagi pendek. Cukup untuk membaca arah angin. Bahkan cukup untuk meninggalkan jejak.
Baca Juga:UMTAS Latih Kader Posyandu Sukamaju 2 Olah Pangan Lokal Jadi PMT BergiziTPP Akan Dipotong, Keluarga ASN Tertekan!
Persoalannya sederhana. Di mana jejak itu? Jika ada nilai yang layak diberikan kepada Rojab, mungkin nilainya adalah stabilitas.
Penerimaan murid baru tahun ini relatif kondusif. Tidak ada hiruk-pikuk besar. Tidak terdengar polemik yang sampai menguasai ruang publik.
Namun di situlah pertanyaan berikutnya muncul. Apakah situasi kondusif itu lahir karena kepemimpinan Kadisdik? Atau memang masyarakat kini mulai dewasa menerima sistem?
Jawabannya belum mudah. Karena indikator keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari tidak adanya keributan.
Yang lebih penting justru apa yang berubah setelah keributan selesai.
Pendidikan bukan sekadar administrasi. Ia adalah pabrik masa depan. Kalau kepala dinas hanya memastikan sekolah buka setiap Senin, guru masuk kelas, dan rapat berjalan sesuai jadwal, itu memang pekerjaan penting.
Tetapi itu belum cukup. Publik selalu menunggu sesuatu yang lebih besar. Sebuah gagasan. Sebuah arah. Sebuah lompatan.
Sebab pendidikan tidak pernah berubah hanya karena surat edaran. Ia berubah karena ada orang yang berani membayangkan masa depan.
Baca Juga:Tim Pengabdian Dosen Unsil Beri Pelatihan Pemanfaatan AI kepada 25 Guru di Purbaratu TasikmalayaDari Hari Jadi Menuju Hari Depan: Mewujudkan Kabupaten Tasikmalaya yang Maju dan Sejahtera
Nama program Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi sudah sangat indah. Tasik Pintar. Dua kata. Pendek. Mudah diingat.
Tetapi justru karena pendek, publik mudah bertanya.
Apa sebenarnya isi “Tasik Pintar” Pintarnya siapa? Pintar dalam ukuran apa?
Apa indikatornya? Target lima tahunnya seperti apa? Apakah soal digitalisasi Literasi? Numerasi? Karakter? Prestasi?Artificial Intelligence? Bahasa Inggris? Atau sekadar slogan yang enak dicetak di spanduk?
Hingga hari ini, masyarakat belum benar-benar melihat wajah besar program tersebut. Belum tampak peta jalannya. Belum tampak tonggak-tonggak keberhasilannya. Belum tampak ukuran yang bisa dipegang publik. Padahal pendidikan memerlukan arah yang bisa dibaca semua orang.
