Sebagian produk juga belum mengantongi sertifikasi seperti PIRT dan label halal, sehingga menjadi kendala dalam memperluas akses pasar. Adapun dari sisi pemasaran, pelaku usaha masih mengandalkan cara konvensional yang bersifat pasif, yaitu menunggu wisatawan datang, tanpa strategi pemasaran digital dan tanpa integrasi dengan paket wisata desa.
“Akibatnya, produk lokal yang sebenarnya memiliki nilai tambah belum mampu bersaing secara optimal di pasar yang lebih luas.
Kegiatan yang diikuti pelaku UMKM binaan bersama pengurus Kelompok Penggerak Pariwisata (KOMPEPAR) ini menekankan dua aspek utama,”ujarnya.
Baca Juga:Kadisdik Tanpa Gimmik!UMTAS Latih Kader Posyandu Sukamaju 2 Olah Pangan Lokal Jadi PMT Bergizi
Menambahkan, Tim dosen Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Siliwangi menegaskan bahwa program tidak berhenti pada pelatihan. Pendampingan dan evaluasi akan dilakukan secara berkelanjutan oleh tim Ekonomi Pembangunan bersama mahasiswa, mulai dari penerapan SOP, penggunaan teknologi, integrasi produk ke paket wisata, hingga penyusunan roadmap pengembangan UMKM desa wisata bersama KOMPEPAR.
“Melalui pendampingan tim Ekonomi Pembangunan ini, penguatan kelembagaan serta transfer pengetahuan kepada kader lokal menjadi strategi agar program dapat terus berjalan secara mandiri,”katanya.
Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan daya saing produk UMKM, memperluas akses pasar, serta menjadi model pengembangan desa wisata berbasis ekonomi inklusif yang berkelanjutan. Program ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan pengentasan kemiskinan (No Poverty) dan pertumbuhan ekonomi yang layak (Decent Work and Economic Growth), melalui peningkatan pendapatan masyarakat dan penciptaan peluang kerja baru di Desa Margacinta.
Pada aspek produksi, narasumber Pramudita Dewanti memaparkan pentingnya penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi, penerapan prinsip Good Manufacturing Practices (GMP) sederhana, serta pemanfaatan teknologi tepat guna.
Peserta diperkenalkan dengan sejumlah peralatan penunjang seperti vacuum sealer, impulse sealer, timbangan digital presisi, termometer digital, dan printer label yang berguna menjaga konsistensi berat, memperpanjang daya simpan, dan membuat tampilan produk lebih profesional.
Pada aspek pemasaran dan inovasi, tim mendorong transformasi kerajinan kolotok khas Desa Margacinta menjadi souvenir kustomisasi. Dengan bantuan alat ukir elektrik, kolotok dapat diukir nama sesuai permintaan wisatawan sehingga memiliki nilai personal dan menjadi identitas khas desa wisata.
