HMI Tasikmalaya dan Misteri Hibah!

HMI Tasikmalaya
Aksi kader HMI di halaman sekretariat beberapa hari lalu. (Ist).
0 Komentar

Mereka berteriak tentang transparansi. Tentang akuntabilitas. Tentang korupsi. Tentang integritas. Itulah sebabnya HMI dihormati.

Tetapi penghormatan itu hanya akan bertahan apabila nilai-nilai tersebut juga berlaku di dalam rumahnya sendiri.Jangan sampai organisasi yang biasa membawa poster “berantas korupsi” justru gagap ketika diminta membuka laporan penggunaan uang organisasi.

Saya teringat ucapan tokoh HMI Tasikmalaya, Marsidi Nadam. Ucapan sederhana. Namun tajam.

Baca Juga:Kadisdik Tanpa Gimmik!UMTAS Latih Kader Posyandu Sukamaju 2 Olah Pangan Lokal Jadi PMT Bergizi

“Jangan hanya berani menyuarakan kemungkaran akibat korupsi pemerintah dan legislatif, sementara di dalam organisasi sendiri justru ikut terlibat dalam tindakan yang tidak terpuji.”

Marsidi Nadam bukan sedang menyerang siapa-siapa. Itu sedang mengingatkan. Bahwa integritas tidak dimulai ketika seseorang menjadi pejabat.

Integritas dimulai ketika masih menjadi aktivis. Kalau amanah organisasi saja sulit dijaga, bagaimana nanti menjaga amanah negara?

Kalau laporan Rp70 juta saja dipersoalkan, bagaimana kelak ketika harus mengelola anggaran miliaran rupiah?

Karena itu, jalan keluarnya sebenarnya sederhana. Bukan saling menyerang. Bukan membuat kubu. Bukan membalas dengan narasi.

Melainkan membuka semua dokumen penggunaan dana hibah secara transparan kepada kader. Jika diperlukan, mintalah pihak yang berwenang melakukan pemeriksaan administratif.

Dalam konteks dana hibah pemerintah daerah, Inspektorat Kabupaten Tasikmalaya memiliki fungsi pembinaan dan pengawasan internal terhadap pengelolaan keuangan daerah, termasuk menindaklanjuti apabila terdapat indikasi perlunya pemeriksaan sesuai mekanisme dan kewenangannya.

Baca Juga:TPP Akan Dipotong, Keluarga ASN Tertekan!Tim Pengabdian Dosen Unsil Beri Pelatihan Pemanfaatan AI kepada 25 Guru di Purbaratu Tasikmalaya

Audit bukan vonis. Audit bukan aib. Audit justru cara paling elegan membersihkan nama organisasi. Kalau pengelolaannya sudah sesuai, hasil audit akan menjadi benteng dari segala prasangka. Kalau ditemukan kekurangan administrasi, itu menjadi ruang untuk memperbaiki diri.Organisasi kader hidup dari kepercayaan. Bukan dari lamanya masa jabatan. Bukan dari kuatnya pengaruh ketua. Bukan pula dari besarnya dana hibah.

Kepercayaan adalah modal utama. Ketika kepercayaan hilang, regenerasi ikut tersendat. Konferensi menjadi sekadar agenda. Kaderisasi berubah menjadi formalitas. Dan organisasi kehilangan ruhnya.

HMI telah melahirkan banyak pemimpin bangsa. Menteri. Gubernur. Bupati. Akademisi. Pengusaha. Semua berangkat dari ruang-ruang diskusi yang sederhana.Dari latihan kader. Dari tradisi mempertanggungjawabkan setiap amanah.

0 Komentar