Bullying Masih Jadi Teror Anak, Diduga Jadi Penyumbang Tingginya Angka ATS di Ciamis

Anak tidak sekolah
Bidang PPPA - DP2KBP3A Ciamis bersama Forum Anak Daerah (FAD)Ciamis dan mahasiswa Unsil saat melakukan sosialisasi stop bullying di SMPN 4 Ciamis, pada 15 April 2026. (Fatkhur Rizqi /Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

CIAMIS, RADARTASIK.ID – Perundungan atau bullying masih menjadi persoalan serius yang menghantui anak-anak di Kabupaten Ciamis. Kasus ini tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi juga di keluarga maupun masyarakat, dan diduga menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS).

Berdasarkan data, saat ini terdapat sekitar 13.000 ATS di Kabupaten Ciamis. Selain faktor ekonomi, pernikahan dini, dan bekerja, perundungan disebut menjadi salah satu penyebab anak enggan melanjutkan pendidikan.

Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Ciamis, Isa Nuralamsyam, mengatakan bullying memberikan dampak besar terhadap keberlangsungan pendidikan anak.

Baca Juga:Langkah Berani Asep Muslim: Tolak Baju Adat Baru, Dorong Efisiensi Anggaran DPRD TasikmalayaUlama dan Ormas Islam Datangi DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Ajukan Naskah Akademik Raperda Ketahanan Keluarga

“Betul bullying ini sangat mengganggu anak dalam melanjutkan sekolah. Sebab, dari 13.000 ATS ini ada mengarah kepada bullying,” kata Isa Nuralamsyam kepada Radar, Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, penyebab ATS dipengaruhi oleh sejumlah faktor, yakni ekonomi, bullying, pernikahan, dan bekerja. “Memang bullying ini masuk nomor dua terbanyak menyumbangkan ATS,” ujarnya.

Karena itu, penanganan ATS tidak cukup hanya dengan mengembalikan akses pendidikan. Anak-anak yang pernah menjadi korban perundungan juga membutuhkan pendampingan untuk memulihkan trauma agar siap kembali mengikuti proses belajar.

“Semua itu supaya mereka bisa melanjutkan pendidikan lebih baik,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang PPPA DP2KBP3A Kabupaten Ciamis, Elis Lismayani SKM Bdn MM, mengungkapkan bahwa penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak menunjukkan tren yang masih tinggi. Sepanjang 2025 tercatat 85 kasus, sedangkan hingga Juli 2026 sudah ada 70 kasus yang ditangani.

Menurut Elis, kasus bullying kini menempati urutan kedua setelah pelecehan seksual.

“Sekarang kasus bullying menempati peringkat kedua, setelah pelecehan seksual. Kalau tahun 2025 yang melaporkan kasus bullying hanya 4 orang dan sekarang (Juli 2026, Red) sudah ada 16 orang,” ujarnya.

Baca Juga:Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya Sebut Pembangunan Kelas Baru SDN Kubangsari Taraju Belum Masuk RencanaSDN Kubangsari Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya Rusak Berat, Siswa Belajar di Madrasah

Ia menilai angka tersebut belum mencerminkan kondisi sebenarnya karena masih banyak korban yang belum melapor.

“Mungkin di luar masih banyak lagi belum melaporkan, karena bullying ini seperti fenomena gunung es,” tambahnya.

Elis mengingatkan bahwa perundungan dapat terjadi di berbagai lingkungan, baik di sekolah maupun di keluarga. Bahkan, pola pengasuhan yang kurang tepat tanpa disadari juga dapat menjadi bentuk perundungan terhadap anak.

0 Komentar