Bullying Masih Jadi Teror Anak, Diduga Jadi Penyumbang Tingginya Angka ATS di Ciamis

Anak tidak sekolah
Bidang PPPA - DP2KBP3A Ciamis bersama Forum Anak Daerah (FAD)Ciamis dan mahasiswa Unsil saat melakukan sosialisasi stop bullying di SMPN 4 Ciamis, pada 15 April 2026. (Fatkhur Rizqi /Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

“Bullying bisa terjadi di mana-mana, baik lingkungan sekolah bahkan di keluarga pun bisa, baik disadari atau tidak disadari,” ujarnya.

“Misalnya di lingkungan keluarga ada pola asuh yang berbeda generasi milenial sekarang dengan pola asuh zaman dulu. Biasanya anak sekarang belum kuat mentalnya, ketika mereka dibandingkan atau dimarahi bisa rapuh mentalnya,” katanya.

Menurutnya, upaya pencegahan harus menyasar akar persoalan dan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi di sekolah maupun pengajian.

Baca Juga:Langkah Berani Asep Muslim: Tolak Baju Adat Baru, Dorong Efisiensi Anggaran DPRD TasikmalayaUlama dan Ormas Islam Datangi DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Ajukan Naskah Akademik Raperda Ketahanan Keluarga

“Kita harus hadir atau mendekat diri kepada kelompok keluarga rentan supaya mendapatkan pemahaman dalam pola pengasuhan anak yang baik,” ujarnya.

Selain pencegahan, pendampingan terhadap korban juga dinilai penting agar mereka tidak mengalami trauma berkepanjangan atau bahkan berubah menjadi pelaku perundungan di kemudian hari. Untuk mendukung proses tersebut, DP2KBP3A telah menyiapkan layanan psikolog bagi korban.

“Supaya mereka yang menjadi korban bullying bisa kembali pulih bermasyarakat kembali dengan mental yang lebih kuat,” katanya. (riz)

0 Komentar