Kasus Siswa Tenggelam di Leuwikeris Picu Desakan Edukasi CPR untuk Masyarakat

CPR Tasikmalaya
Gambar ilustrasi pertolongan pertama: AI.ChatGPT.
0 Komentar

Menanggapi berbagai masukan masyarakat tersebut, Kepala Satuan Tugas Pusat Pengendali Operasi (Kasat Pusdalops) BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Herman Suherman, mengakui edukasi mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Resusitasi Jantung Paru (RJP) memang sangat penting untuk dipahami masyarakat luas.

Pihaknya juga tak tinggal diam, dan telah menyampaikan hal tersebut melalui berbagai pelatihan.

“Slama ini materi penanganan kegawatdaruratan tersebut telah disampaikan melalui pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) yang menyasar berbagai kalangan,” ujarnya saat di konfirmasi radartasik.id, Senin (27/7/2026).

Baca Juga:TPP Akan Dipotong, Keluarga ASN Tertekan!Tim Pengabdian Dosen Unsil Beri Pelatihan Pemanfaatan AI kepada 25 Guru di Purbaratu Tasikmalaya

Herman menyebutkan, mulai dari masyarakat, akademisi hingga aparatur pemerintahan menjadi sasaran edukasi. Namun, cakupannya memang belum menjangkau seluruh desa dan kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya.

Ia menilai pentingnya edukasi terhadap penderita henti napas dan henti jantung bagi masyarakat ataupun survivor. Biasanya BPBD memberikan pelatihan teknis CPR atau Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dalam materi PPGD.

Namun saat ini penyampaiannya masih terbatas pada kegiatan pelatihan dan sosialisasi di masyarakat, akademisi, maupun aparatur pemerintahan.

Herman mengatakan, BPBD Kabupaten Tasikmalaya berkomitmen memperluas jangkauan edukasi tersebut agar masyarakat memiliki kemampuan dasar dalam memberikan pertolongan pertama ketika menghadapi kondisi darurat medis.

“Kami akan terus berupaya agar sosialisasi dan pelatihan ini dapat tersampaikan lebih luas kepada masyarakat, baik melalui metode daring maupun luring, menggunakan media audio visual seperti media sosial maupun praktik langsung yang bersifat observatif, tentunya disesuaikan dengan dukungan anggaran yang tersedia,” katanya.

Herman juga menanggapi video yang beredar di media sosial terkait cara penanganan korban dengan posisi tubuh dibalik, yakni kaki berada di atas dan kepala di bawah.

Menurutnya, metode tersebut merupakan teknik tradisional yang pernah dikenal masyarakat untuk menangani korban henti napas.

Baca Juga:Dari Hari Jadi Menuju Hari Depan: Mewujudkan Kabupaten Tasikmalaya yang Maju dan SejahteraSulalatul Huda dan Sebelas Penjaga Amanah!

Dalam praktiknya, korban diposisikan terbalik kemudian diberikan hentakan dengan cara tertentu sambil dilakukan pemantauan respons korban.

“Kegawatdaruratan saat ini, tindakan harus dilakukan sesuai standar Bantuan Hidup Dasar agar peluang keselamatan korban lebih besar,” jelasnya.

Herman menegaskan, keberhasilan penyelamatan korban henti napas maupun henti jantung sangat dipengaruhi oleh kecepatan penanganan. Semakin cepat korban memperoleh pertolongan yang tepat, maka semakin besar peluang untuk bertahan hidup.

0 Komentar