Sulalatul Huda dan Sebelas Penjaga Amanah!

Sulalatul Huda
gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada orang yang meninggalkan warisan berupa sawah. Ada yang meninggalkan perusahaan. Ada pula yang meninggalkan gedung bertingkat.

KH Didi Abdul Majid meninggalkan sesuatu yang lebih rumit untuk dirawat. Beliau meninggalkan amanah. Amanah itu bernama pesantren.

Membangun pesantren mungkin tidak terlalu sulit. Banyak orang mampu membangun bangunan. Banyak dermawan sanggup menyumbang tanah.

Baca Juga:Sejarah Singkat Kabupaten TasikmalayaPrabowo Tunjuk Pria Kelahiran Tasikmalaya Ini Jadi Wakil Jaksa Agung

Tetapi menjaga ruh pesantren…Itu pekerjaan lintas generasi. Tidak bisa selesai oleh satu orang. Tidak cukup hanya oleh seorang kiai. Harus menjadi pekerjaan seluruh keluarga.

Almarhum KH Didi Abdul Majid memahami betul hal itu. Karena itu, beliau tidak hanya mendidik ribuan santri.

Beliau juga mendidik anak-anaknya. Sebelas orang. Sebelas amanah. Sebelas mata rantai perjuangan. Bukan untuk mewarisi nama. Tetapi mewarisi pengabdian.

Anak sulungnya, Hj. Alya Nurul Huda, bersama suaminya KH Aminudin Bustomi, kini menjadi salah satu pilar utama yang melanjutkan estafet perjuangan Pondok Pesantren Sulalatul Huda. Dari tangan merekalah agenda tahunan haul, pendidikan, hingga pembinaan santri terus berjalan.

KH Aminudin Bustomi tidak sekadar menjadi menantu. Beliau menjadi penerus. Menjaga agar obor yang dinyalakan mertuanya tidak padam diterpa zaman.

Putra kedua, KH Luthfi Muhammad Amin, bersama istrinya Ustadah Dede Nina, juga meneruskan tradisi keilmuan keluarga.

Lalu ada Hana Naafisya bersama Taufik Parastiyo. Kemudian Silmi Abdussalam bersama Nadya Putty Budiman. Disusul Ustadah Syifa Fuadzah bersama Ustaz Irfan Hilmi. Lalu Ustadah Dhiya Nur Afiyah bersama Ustaz Syarif. Kemudian Muhammad Sohibil Wafa bersama istrinya, Eva.

Baca Juga:Hari Anak Nasional Dibayangi Bullying, UPTD PPA Kota Tasikmalaya Soroti Peran Keluarga sebagai Pangkal MasalahDua Pelajar Mangkubumi Tasikmalaya yang Hilang Ditemukan Selamat, Satu Anak Masih Dicari

Sementara putri-putri beliau lainnya, Suni Nur Kamilah, Sufi Nur Fadilah, Zahra, dan Azwa, juga menjadi bagian dari keluarga besar yang menjaga warisan nilai-nilai yang ditanamkan almarhum.

Mungkin masyarakat hanya mengenal satu nama. KH Didi Abdul Majid. Padahal di belakang nama itu berdiri sebuah keluarga besar yang bekerja dalam diam.

Inilah yang membedakan pesantren dengan banyak lembaga lainnya. Pemimpinnya boleh wafat. Tetapi perjuangannya tidak boleh ikut dimakamkan.

Karena pesantren tidak dibangun di atas jabatan. Melainkan di atas sanad. Sanad ilmu. Sanad akhlak. Sanad pengabdian.

0 Komentar