Sejarah Singkat Kabupaten Tasikmalaya

sejarah tasikmalaya
Alun-Alun singaparna. (dok. Pemkab Tasikmalaya)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kabupaten Tasikmalaya pada awalnya bernama Kabupaten Sukapura. Cikal bakalnya berasal dari Sukakerta, sebuah kerajaan kecil bawahan Kerajaan Sunda Pajajaran yang beribu kota di Dayeuh Tengah, Salopa. Penguasa pertama Sukakerta adalah Sri Gading Anteg yang hidup pada masa Prabu Siliwangi bertahta.

Namun pada 1579, Kerajaan Sunda Pajajaran runtuh. Sejak saat itu Sukakerta bersama federasi kerajaan-kerajaan kecil Sunda lainnya sepakat berhimpun di bawah Kerajaan Sumedanglarang.

Pada masa Sumedanglarang dipimpin Gesan Ulun, wilayah Priangan berada di tengah himpitan tiga kekuatan kerajaan Islam, yakni Kesultanan Cirebon di sebelah utara, Kesultanan Banten di sebelah barat, dan Kesultanan Mataram di sebelah timur.

Baca Juga:Prabowo Tunjuk Pria Kelahiran Tasikmalaya Ini Jadi Wakil Jaksa AgungHari Anak Nasional Dibayangi Bullying, UPTD PPA Kota Tasikmalaya Soroti Peran Keluarga sebagai Pangkal Masalah

Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Mataram dengan cepat berkembang menjadi kerajaan adidaya. Rangkaian ekspansi militernya berhasil menaklukkan dua pertiga Pulau Jawa. Untuk menyempurnakan ambisinya menguasai seluruh Pulau Jawa, Mataram harus menaklukkan Tatar Sunda. Karena itu, penaklukan wilayah Priangan menjadi kunci pembuka.

Sejak akhir abad ke-16, Mataram mulai melakukan penetrasi dengan memengaruhi dan memaksa para pemimpin Priangan agar tunduk dan bersekutu. Satu per satu wilayah Priangan jatuh ke tangan Mataram, diawali dengan takluknya Galuh pada 1595, disusul penyerahan Sumedanglarang pada 1613. Sejak saat itu Sukakerta berubah menjadi koloni Mataram setingkat umbul.

Ki Wirawangsa sebagai Umbul Sukakerta, didukung Ki Samahita, Umbul Sindangkasih, Ki Astamangala, Umbul Cihaurbeuti, serta Uyang Sarana dari Indihiang, menentang keputusan Dipati Ukur. Menurut mereka, keputusan Dipati Ukur merupakan tindakan makar terhadap Sultan Mataram. Selain itu, pasukan gabungan Banten dan VOC dinilai memiliki kekuatan militer yang jauh lebih kuat.

Ki Wirawangsa berpendapat, apabila penyerangan tetap dilakukan, balatentara Priangan akan mengalami kekalahan dan para umbul beserta rakyatnya harus menanggung risiko yang sangat berat.

Meski sebagian besar umbul mendukungnya, Dipati Ukur tetap bersikukuh pada keputusannya. Ki Wirawangsa bersama tiga umbul pendukungnya akhirnya menarik pasukan demi menyelamatkan rakyat dari risiko peperangan yang akan dihadapi.

Perkiraan Ki Wirawangsa terbukti benar. Balatentara Dipati Ukur dipukul mundur oleh pasukan Banten dan VOC. Darah juang ribuan rakyat Priangan pun tertumpah di Batavia. Akibat kegagalan tersebut, pada 1630 Dipati Ukur beserta ribuan balatentaranya ditangkap dan dihukum mati oleh Sultan Agung di Mataram.

0 Komentar