TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID–Digitalisasi retribusi parkir di Kota Tasikmalaya belum sepenuhnya berjalan mulus. Di tengah dorongan penggunaan aplikasi dan alat digital untuk mendata transaksi parkir, persoalan sinyal hingga keberadaan juru parkir (jukir) liar masih menjadi pekerjaan rumah.
Kepala UPTD Pengelolaan Parkir Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tasikmalaya, Uen Haeruman, mengatakan pihaknya bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus melakukan pemantauan terhadap perangkat digital yang digunakan di lapangan.
Pemantauan dilakukan setiap pekan untuk memastikan perangkat, jaringan hingga penggunaan aplikasi oleh jukir tetap berjalan.
Baca Juga:Tim Penataan Dadaha Tasikmalaya Berjalan Tanpa PimpinanAmir Mahpud: Gunting Pita Bukan Garis Finish!
“Intinya terus dievaluasi. Kalau ada kendala, dilakukan perbaikan bersama Kominfo,” kata Uen, Kamis (24/9/2026).
Menurut dia, salah satu kendala yang masih muncul berada pada jaringan. Perangkat yang menggunakan telepon seluler terkadang mengalami gangguan ketika sinyal melemah. Kondisi tersebut membuat perangkat tidak dapat menangkap atau merekam transaksi secara optimal.
Alhasil, digitalisasi yang seharusnya membuat urusan parkir lebih terang, sesekali masih harus berhadapan dengan sinyal yang tiba-tiba “menghilang”.
“Kadang sinyal tidak ada. Kalau sinyal jelek, otomatis tidak terdeteksi,” ujarnya.
Karena itu, penguatan jaringan menjadi bagian dari evaluasi. Uen menyebut rencananya akan dilakukan penguatan Wi-Fi di sejumlah titik untuk menunjang kelancaran sistem.
Selain memperbaiki jaringan, Dishub juga berencana menambah perangkat digital. Saat ini, tambahan sekitar 30 alat masih menunggu pencairan CSR dari Bank BJB.
“Rencananya ditambah 30 alat. Mudah-mudahan tahun ini, sekitar akhir tahun,” terangnya.
Baca Juga:Di Kota Tasikmalaya, Oktober Diprediksi Masih KeringDorong Pendidikan yang Adaptif, BNI dan Unpad Perkuat Kolaborasi
Uen menjelaskan, pemantauan tidak hanya berkaitan dengan kondisi alat. Pihaknya juga melihat potensi transaksi di masing-masing lokasi untuk mengetahui sejauh mana perangkat tersebut dapat digunakan secara optimal.
Penggunaan alat juga terus didorong kepada para jukir. Uji coba dan pemantauan dilakukan secara berkala bersama Kominfo.
“Setiap Senin atau Selasa kita evaluasi. Jadi tidak dibiarkan, terus dimonitor sampai jukirnya lancar dan aplikasinya juga lancar,” tuturnya.
Persoalan digitalisasi ternyata tidak berhenti di perangkat milik jukir. Untuk para vendor atau pihak ketiga pengelola parkir, penerapan aplikasi dari Kominfo juga belum sepenuhnya berjalan.
