TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID–Penataan Dadaha secara normatif masih berjalan, katanya sedang proses evaluasi. Namun kondisi ini berjalan tanpa adanya figur dirigen yang mengkoordinir, pasalnya posisi ketua tim masih dalam kondisi kosong selepas Asep MP pensiun.
Di awal langkah penataan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait cukup proaktif bergerak. Dari mulai ketua tim penataan yang saat itu dipegang H Asep MP, pejabat Dishub, Satpol PP hingga UPTD Pengelola Komplek Dadaha kerap melakukan monitor dan membahas proses penataan Dadaha.
Kala itu dengan gagahnya petugas yang tergabung dari tim penataan menutup jalan Dadaha dan dan “menyingkirkan” Pedagang Kaki Lima (PKL) dari area trek jogging. Para pedagang dijanjikan akan difasilitasi tempat baru.
Baca Juga:Amir Mahpud: Gunting Pita Bukan Garis Finish!Di Kota Tasikmalaya, Oktober Diprediksi Masih Kering
Saat ini upaya penataan belum menunjukkan progres, penutupan Jalan Dadaha yang belum jelas kelanjutannya. Ditambah, PKL pun menagih komitmen tim penataan mengenai fasilitasi tempat yang tak kunjung ada kepastian.
Di tengah kondisi ini, sejumlah pejabat baik Dishub, Satpol PP, dan Disporabudpar pun menolak untuk diwawancara. Pasalnya sejak awal, tim sepakat penjelasan apa pun berlaku satu pintu di ketua tim. Masalahnya, saat ini tim tersebut belum memiliki ketua yang baru.
Mengenai kekosongan ketua tim atau satgas penataan ini, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tasikmalaya H Asep Goparullah pun diam. Setelah beberapa kali dihubungi untuk konfirmasi, panglima PNS itu memilih tidak merespons.
Muncul informasi bahwa ketua tim akan dipercayakan kepada Plt Asda 1 Ade Hendar. Namun ketika dikonfirmasi, dirinya juga tidak bisa memberikan komentar karena belum menerima perintah resmi. “Tidak ada SK-nya (ketua tim),” ucapnya.
Sebelumnya, Aktivis Pergerakan Masyarakat Anti Korupsi (Pemantik) Iwan Supriyadi menilai bahwa penataan Dadaha sudah sangat diharapkan publik. Pihaknya pun berharap pemerintah bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut sampai tuntas. “Saya kira semua juga mengharapkan kondisi Dadaha yang lebih baik,” ucap pria yang akrab disapa Iwok itu kepada Radar, Minggu (20/9/2026).
Iwok memandang bahwa setiap orang tentu punya pemikiran, gagasan serta mental yang berbeda. Sehingga pergantian ini cukup riskan, karena bisa berdampak pada progres penataan. “Orang yang berbeda, sangat mungkin bisa membawa hal yang berbeda, entah itu positif atau negatif,” terangnya.
