Pejabat Pemkot Dinilai Tak Punya Malu, Gaya-gayaan Menata Dadaha Tapi Tidak Dituntaskan

Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya
Lalu-lalang pengendara di kawasan persimpangan Jalan Dadaha yang ditutup dalam rangka penataan yang dilakukan Pemkot Tasikmalaya sebulan terakhir, Selasa (29/9/2026). (Ujang Nandar/Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Rencana penataan Kompleks Dadaha Kota Tasikmalaya hingga kini dinilai belum menunjukkan progres yang signifikan. Para pejabat yang terlibat diminta punya rasa malu dan bertanggung jawab menuntaskan penataan.

Penataan Dadaha sudah berjalan lebih dari sebulan, namun yang betul-betul dibenahi hanya area trek jogging saja. Sedangkan semrawutnya PKL dan parkir di area lain masih belum ada penanganan.

Jalan utama Dadaha yang ditutup pun belum ada kejelasan mengenai kelanjutannya. Padahal Dishub berjanji akan evaluasi setelah 30 hari uji coba.

Baca Juga:Tiket Prioritas Kursi Dewas!Industri Kopi Kota Tasikmalaya Makin Potensial, Barista Jadi Peluang Lapangan Kerja

Sejumlah warga dan pengunjung menilai perubahan yang terlihat di kawasan tersebut masih sebatas pada beberapa bagian, sementara persoalan pedagang kaki lima (PKL) dan kondisi kawasan secara keseluruhan belum banyak berubah.

Salah seorang warga, Fathan Fauzan (24) mengaku berharap besar penataan yang dilakukan Pemkot Tasikmalaya bisa menjadikan Dadaha lebih nyaman dan rapi. Karena tidak bisa dipungkiri, dari mulai kondisi sarana olahraga, PKL sampai parkir cukup memprihatinkan. “Tadinya harapan saya sih dengan penataan ini Dadaha jadi semakin baik,” ungkap warga Cipedes itu, Selasa (29/9/2026).

Kendati demikian, realitanya dia melihat penataan hanya terjadi di area trek jogging saja. Sedangkan pemerintah menutup jalan Dadaha yang dia kira akan dilanjutkan dengan penataan di jalur utama tersebut. “Ini hanya ditutup saja atau bagaimana? ko tidak ditata,” tuturnya.

Penutupan jalan Dadaha tersebut menurutnya cukup merepotkan untuk warga yang sekadar melintas. Karena harus menggunakan jalur alternatif yang rutenya memutar dan tidak efektif. “Kalau yang mau jajan mungkin enggak masalah, tapi yang mau lewat malah jadi repot karena harus muter,” ucapnya.

Disinggung soal pemkot yang kesulitan untuk melanjutkan penataan, menurutnya hal itu sangat konyol. Pasalnya hal itu menunjukkan bahwa pemkot tidak serius untuk membuat Dadaha menjadi tertata. “Memalukan sih menurut saya kalau tidak serius atau hanya gaya-gayaan, tapi wajar karena biasanya para pejabat tak punya malu,” selorohnya.

Warga lainnya, Ai Nurhayati, mengaku mengetahui adanya rencana pemerintah untuk melakukan penataan Kompleks Dadaha. Namun, setelah melihat kondisi di lapangan, ia belum merasakan perubahan besar sebagaimana yang diharapkan dari sebuah program penataan kawasan.

0 Komentar