Dalam tradisi pesantren, seorang menantu bukan sekadar anggota keluarga. Ia juga penerus amanah. Seorang anak bukan hanya pewaris harta. Ia adalah pewaris adab. Karena itu, yang diwariskan bukan kunci lemari. Melainkan kunci hati santri.
Sulalatul Huda hari ini masih berdiri. Masih terdengar lantunan Al-Qur’an. Masih dibuka kitab-kitab kuning. Masih ada santri yang bangun sebelum subuh. Masih ada guru yang mengajar tanpa menghitung jam kerja. Semua itu bukan terjadi begitu saja. Di baliknya ada keluarga yang memilih tetap mengabdi.
Mungkin masyarakat hanya melihat haul setiap tahun. Ribuan jamaah datang. Doa dipanjatkan. Para alumni berkumpul. Tetapi yang tidak banyak diketahui adalah pekerjaan panjang sebelum dan sesudah haul berlangsung. Menjaga pesantren bukan pekerjaan sehari.Ia adalah pekerjaan setiap hari.
Baca Juga:Sejarah Singkat Kabupaten TasikmalayaPrabowo Tunjuk Pria Kelahiran Tasikmalaya Ini Jadi Wakil Jaksa Agung
KH Didi Abdul Majid pernah mengajarkan bahwa ilmu harus terus mengalir. Hari ini, aliran itu tidak lagi hanya melalui satu sosok. Ia mengalir melalui anak-anaknya.
Melalui para menantunya. Melalui santri-santri yang kini menjadi guru di berbagai daerah. Seperti sungai yang terus mengalir ke hilir, warisan itu tidak berhenti pada satu generasi.
Tasikmalaya sering disebut gudangnya pesantren. Namun sesungguhnya kekuatan pesantren bukan terletak pada jumlah bangunannya.
Bukan pula pada megahnya masjid. Kekuatannya terletak pada keluarga-keluarga yang rela menjadikan hidup mereka sebagai bagian dari perjuangan dakwah.
Dan keluarga besar KH Didi Abdul Majid menunjukkan bahwa sebuah pesantren tidak hanya diwariskan melalui akta atau sertifikat tanah.
Tetapi melalui teladan, keikhlasan, dan pengabdian yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebab, pesantren yang sejati bukan hanya melahirkan santri. Ia juga melahirkan keluarga-keluarga yang memilih menjaga cahaya ilmu agar tetap menyala, bahkan ketika pendirinya telah lama berpulang. (red)
