TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kadang sebuah kota baru benar-benar melihat trotoarnya setelah trotoar itu “meledak”.
Bukan meledak karena bom. Bukan pula karena gempa. Tetapi karena emosi. Karena cekcok. Karena ruang publik yang terlalu sesak oleh kepentingan.
Dadaha, ikon olahraga sekaligus ruang berkumpul warga Kota Tasikmalaya, mendadak menjadi pusat perhatian.
Baca Juga:Doktor Dadaha!Isyarat Budi Budiman!
Insiden keributan antarpedagang kaki lima beberapa waktu lalu membuat nama Dadaha kembali memenuhi percakapan publik.
Trotoar yang rusak menjadi simbol bahwa persoalan di sana bukan lagi sekadar soal berdagang. Ada persoalan penataan yang selama ini dibiarkan tumbuh perlahan.
Momentum itu rupanya tidak dilewatkan begitu saja oleh Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan.
Pagi itu ia datang dengan pakaian sederhana. Kemeja lengan panjang berwarna krem. Topi hitam menutupi kepalanya. Tidak ada panggung. Yang ada hanya langkah kaki menyusuri kawasan Dadaha.
Di sampingnya berjalan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata, Deddy Mulyana—yang lebih akrab dipanggil Deddy Otoy.
Keduanya tidak sekadar berjalan. Mereka berhenti hampir di setiap titik. Menyapa pedagang. Mendengar keluhan. Melihat kondisi lapangan. Sesekali bercanda. Sesekali berdiskusi serius.
Yang paling banyak disampaikan Viman kepada para pedagang justru bukan soal larangan berdagang.
Melainkan soal kewajiban. “Soal retribusi,” kira-kira begitu pesannya.
Baca Juga:32 Tahun Malik, Jalan Baru di Bawah Pohon Beringin!Bupati yang Memilih Risiko!
Menurut Viman, membayar retribusi bukan semata-mata kewajiban administratif. Retribusi adalah salah satu cara masyarakat ikut membangun kota. Uang yang masuk ke kas daerah akan kembali menjadi jalan, trotoar, penerangan, taman, hingga fasilitas publik lainnya.
Bahasa yang dipilih Viman terdengar sederhana. Tidak menggurui. Tetapi pesannya jelas: hak menggunakan ruang publik harus diimbangi dengan kewajiban kepada daerah.
Di tengah peninjauan itu, muncul suara lain dari warga. Bukan soal pedagang. Melainkan soal jalan.
Seorang warga mengeluhkan kondisi jalan di kawasan Pasar Cikurubuk yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Aspalnya rusak. Lubang mulai bertambah.
Viman mendengarkan. Jawabannya juga diplomatis. Perbaikan jalan itu, katanya, sudah masuk dalam rencana pemerintah.
Kalimat yang sebenarnya cukup sering didengar masyarakat.
