TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Saya mulai bisa membaca karakter H Cecep Nurul Yakin. Bukan dari pidatonya. Bukan pula dari baliho atau slogan “Tasik Era Baru”.
Tetapi dari keberaniannya mengambil keputusan yang tidak selalu disukai. Pemimpin biasanya ingin aman. Tidak ingin gaduh. Tidak ingin diprotes. Kalau bisa semua senang. Kalau bisa semua tersenyum.
Cecep tampaknya tidak memilih jalan itu. Baru genap setahun menjadi Bupati Tasikmalaya, ia justru berkali-kali mengambil keputusan yang mengandung risiko politik. Risiko dikritik. Risiko disalahkan. Bahkan risiko gagal.
Baca Juga:Rumah Penjual Es Teh di Cilembang Digeledah Densus 88, RW Sebut Polisi Amankan Senpi hingga BukuPenggeledahan Densus 88 Berawal dari Ledakan di Dadaha, Ini Kronologi Lengkapnya!
Gebrakan pertamanya mungkin terlihat kecil. Mengubah susunan pengurus DKM Masjid Agung Baiturrahman. Bagi sebagian orang, itu hanya urusan pengurus masjid. Padahal bukan. Itu simbol.
Simbol bahwa bupati ingin menunjukkan satu hal: komando pemerintahan berada di tangannya.
Ia ingin publik tahu bahwa setiap lembaga yang berada dalam ruang kebijakan pemerintah harus berjalan sesuai arah kepemimpinan baru.
Setelah itu datang keputusan yang jauh lebih besar. Jauh lebih mahal. Meminjam dana kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Nilainya tidak kecil. Risikonya juga tidak kecil. Utang daerah selalu menjadi tema yang sensitif.
Ada yang langsung bertanya, mengapa harus berutang? Mengapa tidak menunggu kemampuan APBD? Pertanyaan itu wajar. Tetapi Cecep tampaknya mempunyai logika berbeda.
Jalan rusak tidak bisa menunggu. Infrastruktur tidak bisa diperbaiki sedikit demi sedikit selama puluhan tahun. Janji politik juga memiliki tenggat waktu.
Ia memilih mempercepat pekerjaan, lalu membayar hasil percepatannya dalam beberapa tahun berikutnya.
Baca Juga:Bupati Eksekutor!Ketika Babi dan Kera Masuk Pidato!
Strategi seperti itu lazim dalam dunia bisnis. Di pemerintahan, keberanian seperti ini lebih jarang ditemui. Karena jika berhasil, rakyat menikmati jalannya. Tetapi jika gagal, nama bupatilah yang pertama kali disebut.
Cecep tampaknya sadar. Membangun jalan tidak cukup dengan uang. Membangun pemerintahan juga membutuhkan orang-orang yang memiliki ritme kerja yang sama.
Maka birokrasi pun mulai bergerak. Evaluasi dilakukan. Posisi dirombak.
Pejabat bergeser. Ada yang naik. Ada yang dimutasi. Ada yang harus menerima kenyataan bahwa zona nyaman sudah berakhir.
