Bupati yang Memilih Risiko!

Cecep Nurul Yakin
gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

Banyak yang bertanya-tanya. Mengapa begitu cepat? Jawabannya sederhana. Setiap pemimpin membutuhkan tim yang dipercaya.

Sepandai apa pun seorang bupati, ia tidak mungkin bekerja sendirian. Program hanya akan menjadi dokumen jika birokrasi tidak bergerak.

Yang lebih menarik justru langkah berikutnya. Ia berani mendatangkan pejabat dari luar Tasikmalaya. Istilah populernya: impor pejabat.

Baca Juga:Rumah Penjual Es Teh di Cilembang Digeledah Densus 88, RW Sebut Polisi Amankan Senpi hingga BukuPenggeledahan Densus 88 Berawal dari Ledakan di Dadaha, Ini Kronologi Lengkapnya!

Istilah ini selalu sensitif. Daerah biasanya bangga dengan putra daerah. Tetapi Cecep tampaknya lebih memilih pendekatan kompetensi daripada asal-usul.

Tentu langkah ini mengandung konsekuensi. Sebagian birokrat lokal bisa merasa tersaingi. Sebagian masyarakat mungkin mempertanyakan rasa percaya kepada SDM daerah sendiri.

Namun dari sudut pandang manajemen, setiap pemimpin memang berhak memilih tim terbaik yang diyakininya mampu menjalankan visi pemerintahannya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilannya bukan berasal dari alamat rumah para pejabat itu. Melainkan dari hasil kerja mereka.

Gaya kepemimpinannya juga terlihat dari hal-hal yang mungkin dianggap sepele. Tiket wisata Galunggung dibuat nontunai.

Pajak rumah makan dipasang alat pencatat transaksi. Kebocoran penerimaan daerah mulai ditutup menggunakan teknologi. Digitalisasi memang tidak pernah menarik dijadikan bahan pidato. Tetapi justru di sanalah uang daerah sering terselamatkan.

Di sisi lain, ia memang bukan pemimpin tanpa tantangan. Tasikmalaya masih menghadapi pekerjaan rumah besar. Kemiskinan. Perbaikan layanan pendidikan.

Stunting. Produktivitas pertanian. Irigasi. Investasi. Semuanya membutuhkan biaya.

Semuanya membutuhkan waktu.

Baca Juga:Bupati Eksekutor!Ketika Babi dan Kera Masuk Pidato!

Tidak ada bupati yang mampu menyelesaikan semuanya dalam hitungan bulan. Karena itu, keberanian mengambil keputusan harus diimbangi dengan kemampuan mengelola pelaksanaan.

Keberanian tanpa eksekusi hanya menjadi berita. Eksekusi tanpa keberanian hanya menghasilkan rutinitas.

Ada satu kesan yang semakin kuat. Cecep ingin dikenal bukan sebagai bupati yang pandai berbicara. Ia ingin dikenang sebagai bupati yang berani memutuskan.

Itulah sebabnya ia terlihat sering berada di depan. Memimpin sendiri. Mengomandoi sendiri. Mengambil tanggung jawab sendiri. Model kepemimpinan seperti ini memiliki dua kemungkinan.

Jika berhasil, orang akan menyebutnya pemimpin visioner. Jika gagal, semua kritik akan berhenti pada satu nama. H. Cecep Nurul Yakin.

Begitulah harga sebuah kepemimpinan. Semakin besar keberanian mengambil risiko, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.

0 Komentar