Ketika Babi dan Kera Masuk Pidato!

Kera, babi, tasikmalaya
Tangkapan layar Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi saat beepidato.
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pidato itu hanya beberapa menit. Pelantikannya juga tidak lama. Tiga kepala dinas resmi mendapat amanah.

Budi Martanova memimpin BPBD. Rahman memimpin Dinas Sosial. Nanang Suhara memimpin DPPKBPPPA.

Semua berjalan seperti pelantikan pejabat pada umumnya. Sampai muncul satu kalimat.

Baca Juga:Nanang Aci Akhirnya Sampai: Dari Plt Abadi Menjadi Kadis Sejati!Pelantikan Beberapa Menit, Konsekuensi Bertahun-Tahun!

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.”

Video itu kemudian beredar. Bukan nama tiga kepala dinas yang ramai dibicarakan.

Justru dua hewan. Babi. Dan kera.

Padahal, kalimat itu bukan barang baru. Ia telah lama beredar dalam berbagai bentuk.

Ada yang menyebutnya sebagai peribahasa.

Ada pula yang menganggapnya sebagai kutipan motivasi yang telah dimodifikasi dari waktu ke waktu.

Intinya sama. Manusia jangan hanya hidup secara biologis. Jangan pula bekerja secara mekanis. Manusia harus memiliki makna. Harus memiliki nilai. Harus memberi manfaat. Pesan moralnya sesungguhnya sederhana.

Yang menarik justru pilihan katanya.

Mengapa harus babi? Mengapa harus kera?

Mengapa bukan burung? Mengapa bukan semut? Mengapa bukan lebah yang justru identik dengan kerja keras?

Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan setelah video beredar. Bukan karena pesannya. Tetapi karena diksinya.

Baca Juga:Mahalnya Harga Sebuah Kelalaian, IPAL Rp3,6 Miliar yang Menunggu Colokan!Keluarga Petani Tasikmalaya Terima Santunan hingga Rp 208 Juta dari BPJS Ketenagakerjaan

Bahasa memang aneh. Satu kata bisa mengalahkan satu paragraf. Dalam komunikasi publik, orang sering kali lebih mengingat simbol daripada isi.

Lebih mengingat metafora daripada substansi. Lebih mengingat judul daripada buku. Begitu pula pidato. Yang menempel di kepala publik bukan “value”. Melainkan “babi” dan “kera”.

Apalagi disampaikan oleh seorang kepala daerah. Yakni Wali Kota Tasikmalaya. Setiap kata otomatis berubah menjadi konsumsi publik.

Tidak lagi menjadi percakapan internal. Tidak lagi menjadi motivasi di ruang rapat. Ia menjadi milik masyarakat. Siap dipuji. Siap diperdebatkan. Siap dipotong menjadi video pendek.

Ada yang kemudian bertanya. Siapa yang menulis naskah pidato itu? Pertanyaan itu wajar. Sebab dalam video, wali kota tampak membaca teks dari selembar kertas.

Namun, dari fakta tersebut, tidak bisa disimpulkan siapa penyusun naskahnya. Bisa saja disusun oleh tim. Bisa pula berasal dari bahan yang dipersiapkan sebelumnya dan disetujui sendiri oleh wali kota.

0 Komentar