TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada orang yang cepat menjadi kepala dinas. Ada yang harus menunggu satu periode. Ada pula yang berkali-kali hanya menjadi pelaksana tugas.
H. Nanang Suhara termasuk kelompok terakhir. Ia pernah dua kali dipercaya menjadi Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya. Dua kali pula merasakan kursi paling atas. Tetapi selalu dengan embel-embel tiga huruf: Plt.
Tiga huruf itu sering terasa lebih berat daripada jabatan itu sendiri. Karena Plt boleh memimpin. Tetapi belum tentu dipilih. Kini cerita itu berubah.
Baca Juga:Pelantikan Beberapa Menit, Konsekuensi Bertahun-Tahun!Mahalnya Harga Sebuah Kelalaian, IPAL Rp3,6 Miliar yang Menunggu Colokan!
Di era kepemimpinan Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan dan Wakil Wali Kota Diky Candra, Nanang akhirnya resmi memperoleh kursi yang selama bertahun-tahun hanya ia singgahi.
Ia dilantik menjadi Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Nama dinasnya saja seperti satu paragraf. Mungkin perlu menarik napas dua kali untuk menyebutnya sampai selesai.
Di birokrasi, promosi selalu melahirkan cerita. Cerita resmi biasanya sederhana: kebutuhan organisasi, kompetensi, hasil evaluasi.
Cerita di kantin bu beti jauh lebih panjang. Salah satu cerita yang ramai adalah kebetulan Nanang dan Wali Kota sama-sama menunaikan ibadah haji beberapa waktu lalu.
Dari sanalah muncul berbagai spekulasi. Ada yang berkelakar bahwa perjalanan spiritual itu ikut mencairkan hubungan keduanya.
Benarkah demikian? Tidak ada bukti yang menunjukkan hal itu. Tidak ada pula pernyataan resmi yang menghubungkan ibadah tersebut dengan promosi jabatan.
Baca Juga:Keluarga Petani Tasikmalaya Terima Santunan hingga Rp 208 Juta dari BPJS KetenagakerjaanBPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan Rp 74 Juta kepada Ahli Waris Peserta di Ciamis
Karena itu, semua cerita tersebut tetap berada pada wilayah desas-desus, bukan fakta. Namun begitulah birokrasi. Ketika penjelasan resmi terasa minim, ruang kosong akan segera diisi oleh tafsir publik.
Nanang bukan pejabat yang sering menjadi sorotan karena gebrakan. Ia justru dikenal sebagai pribadi yang santai. Mudah tersenyum. Mudah menyapa. Tidak kaku. Tidak suka menciptakan jarak.
Tetapi dalam urusan kinerja birokrasi, namanya juga tidak terlalu sering muncul sebagai motor perubahan.
Saat menjadi Sekretaris Dinas Pendidikan, publik lebih banyak mengingat institusinya daripada sosoknya.
Ketika menjadi Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga, gaung program yang melekat pada dirinya juga tidak terlalu terdengar. Ia seperti berada di tengah panggung. Tetapi lampunya selalu mengarah ke orang lain.
