Jangan Diajukan Terus, Pak Kadis… Realisasikan!

Viman alfarizi
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan bersama Kepala Dispora Deddy Mulyana menyisir trotoar Dadaha. (Ist)
0 Komentar

Namun beberapa menit kemudian terjadi adegan yang membuat jawaban itu memiliki bobot berbeda.

Di hadapan rombongan dan warga, Viman mengeluarkan telepon genggamnya.Ia langsung menghubungi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, Hendra Budiman.

Percakapan itu menggunakan pengeras suara. Di seberang telepon, Hendra menjelaskan bahwa perbaikan jalan di sekitar Dadaha sudah diajukan.

Baca Juga:Doktor Dadaha!Isyarat Budi Budiman!

Jawaban itu langsung dipotong Viman. Kalimatnya pendek. Namun cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitarnya.

“Jangan diajukan terus. Ya diajukan sampai realisasi, Pak Kadis.” Sebuah kalimat yang sederhana. Tetapi mengandung kritik yang tidak sederhana.

Karena di birokrasi, kata “sudah diajukan” sering kali menjadi tempat paling nyaman untuk menghentikan pekerjaan. Dokumen selesai. Administrasi aman. Tetapi jalan tetap berlubang.

Viman tampaknya ingin memastikan pekerjaan tidak berhenti di meja administrasi. Harus sampai ke lapangan. Harus sampai menjadi aspal. Harus bisa diinjak masyarakat.

Setelah telepon itu selesai, rombongan kembali berjalan. Trotoar demi trotoar diperiksa. Saluran air diperhatikan. Titik-titik yang rusak dibicara.

Deddy Otoy beberapa kali menjelaskan berbagai rencana penataan kawasan Dadaha. Mulai dari penataan ruang publik, fasilitas olahraga, hingga area bagi pedagang agar lebih tertib tanpa menghilangkan denyut ekonomi masyarakat.

Diskusi keduanya berlangsung sambil terus berjalan. Sesekali menunjuk. Sesekali berhenti. Sesekali berdiri cukup lama memperhatikan sudut-sudut yang selama ini mungkin luput dari perhatian.

Baca Juga:32 Tahun Malik, Jalan Baru di Bawah Pohon Beringin!Bupati yang Memilih Risiko!

Di sela-sela kegiatan itu, warga mulai berdatangan. Ada yang sekadar melihatnya. Ada yang melambaikan tangan. Ada pula yang langsung meminta swafoto.

Viman melayani satu per satu. Beberapa warga bahkan mengajak membuat konten video singkat. Ia tersenyum. Berfoto. Lalu kembali berjalan. Begitulah wajah politik hari ini.

Kehadiran seorang kepala daerah tidak lagi hanya dinilai dari rapat yang dipimpinnya. Tetapi juga dari jejak langkahnya di lapangan.

Tentu, publik tidak akan berhenti pada foto-foto. Masyarakat akan menunggu hasil akhirnya. Apakah pedagang menjadi lebih tertib? Apakah retribusi benar-benar meningkat dan berkontribusi pada pendapatan asli daerah?

Apakah trotoar yang rusak benar-benar diperbaiki? Apakah jalan berlubang berubah menjadi jalan yang nyaman dilalui?

0 Komentar