Doktor Dadaha!

Dadaha
Dr. Budi Riswandi, M.Pd.
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada yang menarik dari sidang doktor itu. Bukan karena ruang sidangnya penuh. Bukan pula karena pengujinya memberi nilai tinggi.

Tetapi karena disertasinya berbicara tentang sesuatu yang setiap hari dilewati warga Tasikmalaya—namun jarang benar-benar dibaca. Dadaha. Lapangan itu. Legenda itu. Sejarah itu.

Selama ini orang mengenalnya sebagai ruang olahraga, tempat konser, lokasi bazar, arena kampanye, hingga titik kumpul ribuan orang. Sedikit yang bertanya: mengapa namanya Dadaha? Apa cerita yang tersimpan di baliknya?

Baca Juga:Isyarat Budi Budiman!32 Tahun Malik, Jalan Baru di Bawah Pohon Beringin!

Budi Riswandi atau biasa dikenal Bode Riswandi bertanya. Lalu menjawabnya dengan cara seorang akademisi. Senin, 13 Juli 2026. Di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, dosen Universitas Siliwangi itu mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya.

Ia mengangkat kearifan lokal dan nilai sejarah Kota Tasikmalaya melalui kajian tentang legenda Dadaha. Tema yang terdengar sederhana. Padahal tidak.

Membawa legenda masuk ke ruang akademik bukan pekerjaan ringan. Legenda sering dianggap hanya cerita rakyat. Padahal di dalamnya tersimpan identitas, cara berpikir masyarakat, bahkan jejak sejarah yang membentuk sebuah kota.

Bode Riswandi membuktikan bahwa sastra bukan sekadar kumpulan kata. Sastra adalah arsip kebudayaan.

Para penguji mengapresiasi kedalaman kajian tersebut. Pendekatan yang digunakan memadukan pendidikan, sastra, sejarah, dan seni budaya.

Hasilnya pun memuaskan. Ia dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Kini namanya bertambah satu gelar lagi. Dr. Budi Riswandi, M.Pd.

Sebetulnya, gelar doktor itu hanyalah titik kecil dari perjalanan panjangnya. Karena Bode bukan orang yang tiba-tiba muncul.

Baca Juga:Bupati yang Memilih Risiko!Rumah Penjual Es Teh di Cilembang Digeledah Densus 88, RW Sebut Polisi Amankan Senpi hingga Buku

Ia sudah lama hidup di dunia kata-kata. Di ruang kelas. Di panggung teater. Di rumah budaya. Di lembar koran. Di buku-buku puisi. Di festival sastra. Dan di panggung monolog.

Ia mengajar Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Siliwangi. Namun selepas mengajar, ia tidak pulang untuk berhenti berkarya.

Ia berpindah panggung. Masuk ke Rumah Budaya Beranda 57. Lalu ke Teater 28. Di sanalah ia terus menulis, menyutradarai, melatih, berdiskusi, hingga melahirkan generasi baru pegiat sastra dan teater.

Ada orang yang hanya menjadi dosen. Ada yang hanya menjadi penyair. Ada yang hanya menjadi sutradara. Ada pula yang hanya menjadi organisator.

0 Komentar