Yang menarik, hampir seluruh penghargaan itu bukan sekadar karena kemampuan menulis. Tetapi juga kemampuan menghidupkan teks menjadi pertunjukan.
Ia bukan hanya penulis. Ia sutradara. Ia aktor di balik panggung. Sekaligus guru bagi banyak pemain muda.
Kini, perjalanan itu bertambah satu bab. Doktor. Namun doktor yang diraihnya tidak lahir dari penelitian yang jauh dari masyarakat.
Baca Juga:Isyarat Budi Budiman!32 Tahun Malik, Jalan Baru di Bawah Pohon Beringin!
Ia justru memilih menggali akar kampung halamannya sendiri. Legenda Dadaha. Pilihan itu seperti hendak mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak harus selalu mencari sesuatu yang asing.
Kadang, yang paling dekat justru paling kaya. Yang selama ini dianggap cerita rakyat ternyata menyimpan nilai pendidikan.
Yang dianggap dongeng ternyata menjadi pintu masuk memahami sejarah kota. Yang sering dilewati setiap hari ternyata menyimpan identitas sebuah peradaban.
Tasikmalaya boleh berbangga. Bukan semata karena bertambah seorang doktor. Melainkan karena bertambah seorang doktor yang tetap memilih berpijak di tanah tempat ia tumbuh.
Di tengah derasnya arus globalisasi, Bode Riswandi menunjukkan bahwa kebudayaan lokal tidak cukup hanya dipentaskan. Ia harus diteliti. Ditulis. Diajarkan. Dipertahankan.
Sebab sebuah kota tidak hanya dibangun oleh jalan, gedung, dan anggaran. Ia juga dibangun oleh ingatan.
Dan ingatan itulah yang, selama bertahun-tahun, terus diperjuangkan oleh Dr. Budi Riswandi, M.Pd. melalui sastra, teater, pendidikan, dan kini melalui sebuah disertasi yang mengangkat nama Dadaha ke ruang akademik. (red)
