Doktor Dadaha!

Dadaha
Dr. Budi Riswandi, M.Pd.
0 Komentar

Bode memilih menjadi semuanya. Ia menulis puisi. Menulis cerpen. Menulis esai. Menulis naskah drama. Lalu menghidupkannya di atas panggung. Karya-karyanya tidak hanya lahir.

Tetapi juga dipentaskan. Tidak hanya dibaca. Tetapi diperdebatkan. Tidak hanya selesai menjadi buku. Tetapi menjadi peristiwa kebudayaan.

Nama Bode kemudian muncul di banyak antologi sastra Indonesia. Mulai dari Biografi Pengusung Waktu, Poligami, Kontemplasi Tiga Wajah, End of Trilogy, Sang Kecoak, Lanskap Kota Tua, Tsunami Bumi Nanggroe Aceh, Rumah Lebah Ruang Puisi, hingga Mendaki Kantung Matamu, Istri Tanpa Clurit, Dada Tuhan, dan puluhan antologi lainnya. Jejak kepenulisannya membentang lebih dari dua dekade.

Baca Juga:Isyarat Budi Budiman!32 Tahun Malik, Jalan Baru di Bawah Pohon Beringin!

Prestasi pun datang satu demi satu. Tahun 2005, cerpennya Istri Tanpa Celurit memenangi sayembara cerpen nasional. Pada tahun yang sama ia dipercaya menjadi Duta Kesenian Indonesia dalam misi budaya ke Malaysia.

Lima tahun kemudian, kumpulan puisinya Mendaki Kantung Matamu masuk sepuluh besar Khatulistiwa Literary Awards.

Tahun 2012, pemerintah pusat memberikan penghargaan kepadanya sebagai penggagas Gerakan Tasikmalaya Membaca. Setahun kemudian manuskrip puisi Dada Tuhan masuk lima besar Jabar Awards.

Lalu pada 2014 ia menerima Anugerah Peduli Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Republik Indonesia. Masih pada tahun yang sama, naskah drama Sunda Hak Peto menjadi salah satu karya yang paling banyak dipentaskan dalam Festival Drama Basa Sunda.

Itu menunjukkan satu hal. Karya-karyanya tidak berhenti di rak buku. Ia hidup di panggung.

Sepuluh tahun berikutnya menjadi fase pengabdian. Dari 2015 hingga 2025, ia dipercaya memimpin Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat.

Di tengah keterbatasan anggaran, naik-turunnya perhatian pemerintah terhadap seni, hingga perubahan generasi, ia tetap menjaga denyut kehidupan kebudayaan di Tasikmalaya.

Baca Juga:Bupati yang Memilih Risiko!Rumah Penjual Es Teh di Cilembang Digeledah Densus 88, RW Sebut Polisi Amankan Senpi hingga Buku

Pada masa itulah ia diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk menulis naskah Album Keluarga ’65.

Kemudian menjadi pembicara sekaligus pembaca puisi di Kuala Lumpur. Tasikmalaya dibawanya keluar kota. Bahkan ke luar negeri.

Prestasinya justru semakin banyak pada beberapa tahun terakhir. Antologi Mereka Terus Bergegas memperoleh Anugerah Hari Puisi Indonesia 2019.

Ia menjadi juara Dramatic Reading Kemdikbud 2021. Juara Monolog PEKSIMINAS. Juara Festival Teater Modern Bali Jani. Juara Monolog Artefak UNS. Juara Baca Puisi Piala H.B. Jassin. Dan sederet penghargaan lain hingga 2025.

0 Komentar