TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Hari ini, 14 Juli. Bagi sebagian orang, itu hanya pergantian angka usia.
Bagi Al Malik Masahiko Otsuka Mahpud, ST., M.Sc., hari ini adalah penanda dimulainya babak baru.
Usianya genap 32 tahun. Usia yang oleh banyak orang disebut sebagai masa transisi. Tidak lagi terlalu muda untuk sekadar mencoba-coba. Belum pula terlalu tua untuk berhenti bermimpi.
Baca Juga:Bupati yang Memilih Risiko!Rumah Penjual Es Teh di Cilembang Digeledah Densus 88, RW Sebut Polisi Amankan Senpi hingga Buku
Di usia itulah Malik mengambil keputusan yang mungkin akan mengubah arah hidupnya. Ia masuk politik. Ia memilih berlabuh di Partai Golkar.
Ada yang mengatakan politik adalah dunia yang penuh tikungan. Kalimat itu mungkin tidak terlalu asing bagi Malik.
Sebab selama empat tahun terakhir, ia sudah terbiasa menghadapi tikungan. Bukan tikungan politik. Melainkan tikungan di lintasan adventure offroad. Jalur berlumpur. Jalur licin.
Jalur yang memaksa setiap pembalap mengambil keputusan dalam hitungan detik. Kesalahan sedikit saja bisa membuat kendaraan terjebak.
Atau bahkan terguling. Barangkali pengalaman itulah yang membuat Malik tidak terlalu takut memasuki dunia politik.
Karena politik pun memiliki karakter yang sama. Medannya tidak selalu rata.
Malik bukan figur yang datang dari ruang hampa. Ia tumbuh di dunia profesional. Kariernya dibangun di sektor transportasi darat.
Baca Juga:Penggeledahan Densus 88 Berawal dari Ledakan di Dadaha, Ini Kronologi Lengkapnya!Bupati Eksekutor!
Dari posisi manajer hingga dipercaya menjadi Direktur Pengendalian Lapangan dan Teknik PT Primajasa Perdanaraya Utama.
Di sana ia belajar satu hal. Keputusan bukan diukur dari seberapa keras suara yang keluar. Tetapi dari seberapa besar dampaknya.
Memimpin operasional lapangan berarti memimpin manusia. Mengelola risiko. Menyelesaikan persoalan. Mengambil keputusan ketika waktu tidak memberi kesempatan berpikir terlalu lama.Bekal seperti itu jarang dimiliki politisi yang lahir langsung dari organisasi politik.
Kini jalannya berbelok. Malik memilih Pohon Beringin sebagai rumah politiknya. Di DPD Partai Golkar Jawa Barat, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Bendahara Umum.
Bagi sebagian orang, jabatan bendahara hanya identik dengan urusan keuangan.
Padahal lebih dari itu. Di organisasi besar, bendahara adalah bagian dari sistem kepercayaan.
Karena organisasi hanya bisa berjalan jika tata kelolanya sehat. Dan kepercayaan tidak lahir dalam sehari. Ia dibangun dari rekam jejak.
