IHSG Anjlok ke Level Terendah Sejak 2021, Rupiah Tembus Rekor Terlemah, Pasar Menunggu Kejelasan Kebijakan

IHSG Anjlok
Pasar saham Indonesia ditutup melemah 4,11 persen ke level 5.941, sekaligus menandai posisi penutupan terendah sejak Mei 2021. (Hasil AI/ChatGPT)
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali menerima tekanan berat pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026.

Pasar saham Indonesia ditutup melemah 4,11 persen ke level 5.941, sekaligus menandai posisi penutupan terendah sejak Mei 2021.

Menurut catatan Stockbit, kejatuhan ini bukan sekadar koreksi harian biasa, sebab sejak awal tahun IHSG telah merosot 31,3 persen dan menjadi indeks saham dengan performa paling lemah di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau Bloomberg.

Baca Juga:Ekspor-Impor Indonesia April 2026 Melesat, Neraca Perdagangan Tetap SurplusKunjungan Wisatawan Mancanegara Naik, Tapi Wisnus dan Wisnas Turun: Apa yang Terjadi di Pariwisata April 2026?

Tekanan terhadap pasar modal Indonesia terjadi di tengah kombinasi sentimen negatif yang datang bersamaan.

Rupiah melemah tajam, harga minyak dunia kembali mendekati level psikologis US$100 per barel, surplus neraca perdagangan menyusut drastis, inflasi bergerak di atas ekspektasi, dan investor masih menunggu kejelasan aturan teknis terkait kebijakan ekspor komoditas.

Situasi ini membuat pelaku pasar berada dalam posisi defensif.

Bukan hanya investor ritel yang mulai berhitung ulang, investor asing pun mencatatkan net foreign outflow sebesar Rp 993,3 miliar pada perdagangan, Rabu, 3 Juni 2026.

Saham Bank Besar dan Komoditas Jadi Beban Utama IHSG

Pelemahan IHSG terutama ditekan oleh sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 5,15 persen, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 4,61 persen, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) anjlok 14,91 persen, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terkoreksi 3,39 persen, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,88 persen.

Tekanan lebih dalam terlihat pada saham-saham komoditas dan konglomerasi.

Secara sektoral, indeks basic materials menjadi sektor dengan koreksi terdalam setelah jatuh 9,05 persen.

Sektor energi juga ikut melemah tajam sebesar 5,61 persen.

Dua sektor ini menjadi sorotan karena sangat dekat dengan isu kebijakan ekspor komoditas yang belakangan memunculkan ketidakpastian baru di pasar.

Baca Juga:Transportasi Indonesia April 2026: Penumpang Pesawat Domestik Anjlok, Kereta Api Justru Terus MelajuGTS Internasional Tbk Catat Rugi Bersih US$0,9 Juta di Kuartal Pertama 2026, Margin Kotor Jadi Sorotan

Investor tampak belum sepenuhnya nyaman dengan arah kebijakan sentralisasi ekspor komoditas.

Di satu sisi, kebijakan tersebut diarahkan untuk memperbaiki tata kelola, meningkatkan penerimaan negara, dan menjaga devisa hasil ekspor tetap berada di dalam negeri.

Namun di sisi lain, pasar masih membutuhkan kepastian mengenai kontrak jangka panjang, mekanisme harga, pembayaran, pengapalan, asuransi, hingga sistem pelaporan digital yang akan digunakan.

0 Komentar