IHSG Anjlok ke Level Terendah Sejak 2021, Rupiah Tembus Rekor Terlemah, Pasar Menunggu Kejelasan Kebijakan

IHSG Anjlok
Pasar saham Indonesia ditutup melemah 4,11 persen ke level 5.941, sekaligus menandai posisi penutupan terendah sejak Mei 2021. (Hasil AI/ChatGPT)
0 Komentar

Ketidakjelasan teknis seperti ini membuat saham berbasis komoditas rawan mengalami tekanan lanjutan.

Pasar keuangan, pada dasarnya, tidak selalu takut pada aturan baru.

Yang lebih sering menakutkan adalah ruang abu-abu di antara pengumuman kebijakan dan pelaksanaannya.

Rupiah Sentuh Rekor Terendah, Tekanan ke Bank Indonesia Meningkat

Bukan hanya IHSG yang melemah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga ditutup turun 0,63 persen ke level Rp 17.950 per dolar AS.

Level tersebut menjadi rekor terlemah baru sepanjang sejarah.

Baca Juga:Ekspor-Impor Indonesia April 2026 Melesat, Neraca Perdagangan Tetap SurplusKunjungan Wisatawan Mancanegara Naik, Tapi Wisnus dan Wisnas Turun: Apa yang Terjadi di Pariwisata April 2026?

Dengan pelemahan ini, rupiah telah turun sekitar 7,5 persen sejak awal tahun dan menjadi mata uang Asia dengan kinerja terburuk sepanjang 2026 menurut data Bloomberg.

Pelemahan rupiah memperbesar kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia.

Ketika nilai tukar terus tertekan dan inflasi mulai naik, ruang BI untuk mempertahankan suku bunga menjadi semakin sempit.

Konsensus Bloomberg memperkirakan BI Rate pada akhir 2026 dapat berada di level 5,5 persen.

Angka ini mengimplikasikan potensi kenaikan 25 basis poin dari level saat ini.

Kenaikan suku bunga biasanya dipakai untuk menjaga daya tarik aset rupiah dan meredam tekanan inflasi, tetapi konsekuensinya tidak ringan.

Biaya pinjaman bisa meningkat, ekspansi bisnis menjadi lebih mahal, dan konsumsi rumah tangga dapat ikut tertahan.

Baca Juga:Transportasi Indonesia April 2026: Penumpang Pesawat Domestik Anjlok, Kereta Api Justru Terus MelajuGTS Internasional Tbk Catat Rugi Bersih US$0,9 Juta di Kuartal Pertama 2026, Margin Kotor Jadi Sorotan

Harga Minyak Mendekati US$100, Risiko Fiskal Ikut Membesar

Tekanan pasar juga datang dari harga minyak dunia.

Harga minyak Brent meningkat selama tiga hari berturut-turut dan berada di level US$98,9 per barel pada Rabu sore.

Kenaikan ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik, terutama terkait potensi perpanjangan gencatan senjata AS dan Iran serta masa depan arus perdagangan melalui Selat Hormuz.

Bagi Indonesia, harga minyak tinggi membawa dilema yang cukup pahit.

Indonesia masih berstatus sebagai net importir minyak, sehingga kenaikan harga minyak global berpotensi memperlebar defisit migas dan menekan anggaran negara.

Jika harga energi bertahan tinggi terlalu lama, beban subsidi dan kompensasi energi bisa ikut membesar.

Kondisi ini menjadi sensitif karena pasar juga sedang mencermati ruang fiskal pemerintah.

Ketika harga minyak naik, rupiah melemah, dan penerimaan ekspor terganggu oleh ketidakpastian regulasi, persepsi risiko terhadap ekonomi Indonesia ikut meningkat.

0 Komentar